UC News

Surat Cinta Untuk Starla, Kisah Cinta Kental Sakarin

Surat Cinta Untuk Starla, Kisah Cinta Kental Sakarin
image: imdb.com

Memerankan empat tokoh serupa dalam empat romansa sepanjang 2017, Jefri Nichol mesti berpindah haluan sejenak tahun depan. Sebelumnya, bolehlah kita sekali lagi menikmati Nichol sebagai bad boy yang (diam-diam) berhati emas. Dia memang terlahir untuk karakter demikian. Dan adaptasi layar lebar lagu buatan Virgoun yang sempat pula diangkat menjadi web series berjudul sama ini jelas memfasilitasi bakat sang aktor. 

Jefri menjadi Herma Chandra, remaja yang sulit diatur, seniman graffiti jalanan yang kerap diburu polisi, enggan berkuliah, ke mana-mana mengendarai mobil tua sambil menenteng mesin tik peninggalan mendiang kakeknya. Singkatnya, Herma adalah hipster. Gemar menghabiskan waktu di cafe hipster pula. Tapi dia juga pecinta alam, mengutuk mereka yang membuang sampah sembarangan. Karena tokoh dalam film remaja arus utama kita wajib memiliki kompas moral supaya penonton ABG bisa mengambil contoh, bukan?

Pasangannya tak lain Starla (Caitlin Halderman), gadis kaya pemilik coffee shop yang pertunangannya baru saja kandas. Jika Jefri masih sering lemah soal pengucapan dialog, Caitlin lebih dinamis. Meski berparas cantik dan berasal dari kalangan atas, ia bukan puteri glamor macam aktris Screenplay lain, sebutlah Michelle Ziudith. Caitlin sebagai Starla merupakan gadis idola manis yang dapat kita jumpai di kehidupan nyata. Itulah mengapa sosoknya mudah disukai. 

Dipandang lewat segi filmis, Surat Cinta Untuk Starla jelas penuh cacat. Dialog berupa kalimat puitis yang dipaksa bersatu ketimbang pembicaraan natural manusia, flashback yang tak terjahit rapi dengan setting masa kini, sampai twist tak substansial selaku pemenuhan obligasi terhadap ciri Screenplay. Tapi beda ceritanya bila memandang film ini drama romantika "kental sakarin" dengan tujuan tunggal memancing jeritan penonton muda, tepatnya golongan SMA ke bawah. Di sela-sela romansa, Ramzy dan Ricky Cuaca memberi bumbu komedi yang sama sekali tak lucu, sedangkan Teuku Ryzki menegaskan bahwa personil CJR yang mampu berakting hanya Iqbaal.

Walau dangkal, saya urung menentang hiburan seperti itu. Surat Cinta Untuk Starla sanggup membuat para gadis berteriak tiap Jefri Nichol bicara atau membelai wajah Caitlin Halderman (sebelum akhirnya bicara juga). Suatu hari mereka bakal beranjak dewasa, tak lagi menggemari gaya percintaan demikian, lalu geleng-geleng kepala melihat generasi lebih muda yang tergila-gila. Bukan masalah. Ini yang disebut proses perkembangan. 

Sama halnya proses berkarya Screenplay yang perlahan berkembang. Biarpun duet penulis naskah, Tisa TS dan Sukhdev Singh jalan di tempat, kehadiran Rudi Aryanto (dulu membuat judul "legendaris", Psikopat) menggantikan Asep Kusdinar sebagai sutradara sedikit menghasilkan rasa baru. Mementingkan fokus pada kedua tokoh alih-alih pemandangan (yang tak lagi memakai setting luar negeri mewah) kala terjadi interaksi, hubungan Herma-Starla terjalin melalui obrolan yang memaksimalkan pesona dua pemain utama. It's more about relationship than luxury. Andai naskahnya tak coba tampil rumit secara berlebihan dalam merangkai twist yang berakhir bak benang kusut.

Rating: 2.5/5

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot