UC News

Sejarah Peteng Cirebon Akan Diungkap

Sejarah Peteng Cirebon Akan Diungkap
Keraton Kasepuhan Cirebon/ANI NUNUNG/PR

SUMEDANG, (PR).- Sejarah peteng (gelap) Cirebon yang tertutup rapat sekitar 200 tahun akan diungkap. Menurut Pangeran Hempi Raja Kaprabon, pada masa penjajahan Belanda, sejarah yang berkaitan dengan perpecahan di Kesultanan Cirebon itu memang tidak boleh dibuka. Sementara pada masa Orde Baru, pengungkapannya juga terkendala ewuh pakewuh lantaran menyangkut cerita aib.

Padahal pengungkapan sejarah itu penting untuk mendudukkan persoalannya secara benar. ”Saya hanya membuka. Kita hanya melihatnya dari segi akademis. Kalau yang salah, ya salah. Yang benar, ya benar,” kata Hempi di sela-sela sidang promosi doktor ilmu sejarahnya di Gedung Dekanat Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Jalan Ir. Soekarno, Jatinangor, Sumedang, Jumat, 11 Agustus 2017. Soal sejarah peteng itu termasuk yang disinggung dalam disertasi Hempi yang berjudul ”Dinamika Keraton Kaprabonan Cirebon Sejak Masa Kolonial Hingga Masa Republik Indonesia (1696-2015)”.

Selain diungkap lewat disertasi, sejarah peteng Cirebon juga akan ditampilkan lewat pertunjukan wayang cepak pada 16 September mendatang. Sumber sejarah yang bisa dipercaya tentang sejarah peteng memang belum banyak diungkap. ”Sebagian memang takut mengungkapkannya. Insyaalah nanti saya buka dalam cerita wayang dulu,” kata Hempi.

Nina Herlina yang bertindak sebagai promotor Hempi menyatakan, dibukanya sejarah peteng Cirebon bisa menyinggung pihak lain. Mungkin ada keturunannya yang mungkin merasa leluhurnya tidak begitu.

”Kalau dibuka mungkin ada pihak-pihak yang merasa tidak setuju dan itu sah-sah saja. Tapi kalau tidak setuju, jawablah secara ilmiah. Kalau punya fakta, punya sumber, bantahlah itu dengan ilmu yang sama, dengan kacamata yang sama. Pro dan kontra bisa saja. Malah memperkaya. Bongkar saja sekalian, apa isinya,” kata Nina.

Sejauh ini, menurut Nina, belum ada penelitian historis yang komprehensif tentang Kaprabonan. Kaprabonan hanya disinggung secara fragmentaris dalam penelitian-penelitian yang lebih luas. ”Baru Pak Hempi yang menulis Kaprabonan. Secara pribadi saya merasa senang ada orang keraton yang mau jadi doktor sejarah. Ini doktor sejarah ke-14 yang saya bidani. Saya merasa senang Cirebon memiliki doktor sejarah dari kalangan keraton yang menjadi pewaris Pangeran Aria Cirebon yang tahun 1720 menulis Carita Purwaka Caruban Nagari,” ujar Nina.

Dalam disertasinya, Hempi mengungkapkan bahwa Kaprabonan lahir menyusul konflik internal di lingkungan keraton. Sepeninggal Sunan Gunung Jati, Kesultanan Cirebon melemah. Di sisi lain, pengaruh politik Kesultanan Mataram dan Kesultanan Banten menguat. Situasi itu berdampak pada terpecahnya Kesultanan Cirebon menjadi Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman.

”Belakangan, konflik internal di Keraton Kanoman melahirkan Kaprabonan pada 1696 dan Kacirebonan pada 1808,” ujar Hempi.

Saat memisahkan diri itu, Kaprabonan tidak memosisikan diri sebagai sebuah kesultanan, melainkan merupakan sebuah pagurondengan fokus pada pengembangan tarekat Sattariyah.

”Kaprabonan didirikan sebagai reaksi keras atas intervensi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, Maskapai Dagang Hindia Belanda) terhadap suksesi kepemimpinan di lingkungan Keraton Kanoman. Pendirian Kaprabonan dilatarbelakangi bukan oleh kekuasaan semata, melainkan ketidakmauan dari Pangeran Raja Adipati Kaprabon untuk tunduk sepenuhnya kepada VOC. Pangeran Raja Adipati Kaprabonan lebih memilih menyebarkan Islam melalui tarekat sesuai dengan tradisi leluhurnya,” kata Hempi.

Pengaruh politik

Tarekat ini selanjutnya berkembang, bukan cuma di lingkungan keraton melainkan ke seluruh lapisan masyarakat. Di Kaprabonan, terdapat naskah Patarekatan yang menjadi rujukan utama amalan Tarekat Sattariyah, khususnya bagi kalangan keluarga keraton Cirebon.

”Oleh karena itu, Kaprabonan bukanlah sebuah keraton yang di dalamnya melekat kekuasaan politik. Namun demikian, Kaprabonan tetap memiliki pengaruh politik karena kedudukannya sebagai paguron keagamaan,” jelas Hempi yang juga sultan Kaprabonan.

Baru pada masa pendudukan Jepang, Kaprabonan diakui sebagai sebuah keraton dengan kedudukan yang berbeda dengan Kasepuhan dan Kanoman. Pengakuan itu dikukuhkan oleh pemerintah keresidenan Cirebon. Pada masa republik, Keraton Kaprabonan diakui sebagai salah satu keraton di Cirebon yang menjadi pemangku adat/budaya.***

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot