UC News

Sejarah Pesugihan Gunung Kawi

Siapa yang tidak kenal dengan Gunung Kawi, gunung ini terkenal mistis dan misterius dikarenakan legenda yang lekat dengan pesugihan, barang siapa bersemedi dan berdoa di sana diyakini bisa mendatangkan kekayaan. Namun bagaimanakah Gunung Kawi itu sebenarnya, apa iya mendatangkan kekayaan?

Sejarah Pesugihan Gunung Kawi
youtube
Jika kita telusuri sejarahnya, di gunung Kawi ada dua makam atau pesarean dari Kanjeng Kyai Zakaria II atau Eyang Djoego dan Eyang Sudjo (Raden Mas Iman Sudjono). Keduanya adalah pembantu dekat Pangeran Diponegoro.

Saat Diponegoro ditangkap Belanda, pengikut setianya banyak yang melarikan diri dan sebagian ke Jawa Timur. Mereka melewati berbagai tempat dari Pati, Bagelen, Tuban, Kepanjen lalu Blitar. Di tahun 1840, Kanjeng Kyai Zakaria II tiba di Desa Sanan, Keamben, Blitar yang dikenal sebagai Dusun Djoego lalu mendirikan padepokan sampe satu dekade.

Beliau memiliki salah satu murid yang bernama Raden Mas Jonet atau Raden Mas Iman Sudjono yang diangkat menjadi anaknya, dan akhirnya sering dijuluki Eyang Sudjo.

Pada dekade berikutnya, Eyang Djoego memerintahkan RM Iman Sudjono dan murid-muridnya yang diantaranya 40 orang Tionghoa untuk membuka hutan di selatan Gunung Kawi, dan berwasiat jika suatu saat meninggal dia mau dimakamkan di sana. Selama perjalanan banyak peristiwa yang membuat penamaan berbagai tempat.

pesarean Mbah Djoego

Akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang dinamai Dusun Wonosari, dan membangun rumah-rumah untuk menetap. Eyang Djoego lalu menyusul kesini untuk menentukan Sebagian dari rombongan untuk menetap di tempat baru, dan sebagian kembali ke Dusun Djoego bersama eyang Djoego.

gapura bernuansa Hindu

Pada 22 Januari 1871, Eyang Djoego meninggal, dan sesuai wasiatnya beliau dimakamkan di Dusun Wonosari. Akhirnya Eyang Sudjo menetap di Wonosari, dan semakin banyak orang bermukim dan pindah ke sini. Pada sekitar 1871-1876 seorang putri Residen Kediri, Ny Schuller datang berobat ke RM Iman Sudjono, dan sembuh. Ia tidak pulang ke Kediri hingga RM Iman Sudjono wafat pada 8 Februari 1876. Dan beliau dimakamkan satu liang lahat dengan Eyang Djoego.

lorong menuju pesarean
Pada 1932, seorang Tionghoa Ta Kie Yam, berziarah ke Pesarean Gunung Kawi ini, dan menetap disana. Dia bersama beberapa temannya dari Surabaya dan Singapura membangun jalan dan gapura-gapura di Gunung Kawi.
kuil Tionghoa di Gunung Kawi

Sekitar tahun 1950an, Ong Hok Liong sedang terpuruk secara ekonomi sehingga ia berziarah ke Pesarean Gunung Kawi. Pada malam harinya, ia bermimpi melihat bentul kemudian bertanya maksudnya kepada juru kunci makam. Juru kunci menganjurkan agar ia mengubah merk rokoknya menjadi Bentoel, yang ia lakukan pada tahun 1954. Setelah itu, bisnis Ong Hok Liong meningkat dan menjadikannya salah satu orang kaya di Indonesia

pinterest
Gunung Kawi terletak di daerah Malang, Jawa Timur terletak sekitar 53 km dari pusat kota Malang, perbatasan ke arah Blitar. Gunung ini ramai pada saat acara suroan (Bulan Suro, adalah bulan penanggalan Jawa), yang mana disana banyak ritual-ritual budaya setempat yang diyakini bisa mendatangkan keberkahan.


Kisah Klenik Gunung Kawi

Menurut juru kunci setempat, saat melakukan ziarah ke pesarean Kawi, mereka tidak boleh memikirkan hal-hal yang tidak baik. Disarankan mandi keramas, sebelum berdoa di depan Makam sembari membakar dupa, dan bersemedi hingga berjam-jam bahkan berhari-hari.

Di sana terdapat bangunan bekas rumah Eyang Sujo berbentuk padepokan yang dulunya dibuat syiar Islam, dan ajaran Islam Kejawen, pengobatan, ilmu kesaktian dan lain-lain.

Ada benda keramat berbentuk guci yang dulu digunakan Eyang Jugo menyimpan air suci yang digunakan untuk pengobatan. Guci ini masih ada sampai sekarang di pesarean (makam). Masyarakat meyakini jika minum air dari guci ini membuat kita awet muda.

menunggu di bawah pohon Dewandaru

Di sana ada sebuah pohon yang unik dikenal dengan Pohon Dewandaru, pohon yang mendatangkan keberuntungan. Pohon ini sejatinya sejenis cerne Belanda yang biasa disebut orang Tionghoa sebagai pohon Dewa. Peziarah menunggu dahan, buah atau daun itu jatuh lalu memanfaatkan nya sebagai azimat, dengan cara dibungkus dengan uang lalu disimpan ke dompet. Mereka memercayai ini menambah kekayaan. Entah tentang kebenarannya.


Petilasan Prabu Sri Kameswara

Referensi pihak ketiga

Ada tempat bernama Keraton, yang ketinggiannya mencapai 700 meter. Pada tahun 1200 M, tempat ini diyakini menjadi tempat bertapanya Pangeran dari Kerajaan Kediri (Prabu Kameswara) yang beragama Hindu saat menghadapi kemelut kerajaan.


Percaya atau tidak pesugihan ini dikenal hanya mitos. Manusia tetap harus berusaha dan berdoa untuk mendapatkan apa yang dia inginkan


Source
Satujam.com
oto.detik.com
Topic: #ziarah
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot