UC News

Kesalahan Terbesar Soekarno Adalah Tak Mau Mendengarkan Hatta

Akan terasa unik jika kita mendengarkan kembali kisah dari dua orang pendiri bangsa ini, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta, bak sepasang sepatu keduanya tak pernah lepas, saling terikat, saling melengkapi. Bahkan banyak yang menyebutkan keduanya bagai dwitunggal, namun pada masanya kelak akan menjadi dwitanggal.

Kisah ini bermula ketika tahun 1923 Soekarno dan Hatta dipertemukan semesta untuk pertama kalinya, lalu pada saat setelahnya mereka berjuang bersama mengibarkan nama Indonesia di tanahnya sendiri. Sakit, perih, suka, duka, pernah dilewati bersama, bahkan pengasingan dan terpisahkan dalam waktu yang lama tak membuat keduanya hilang ikatan sebagai sahabat.

Kesalahan Terbesar Soekarno Adalah Tak Mau Mendengarkan Hatta
Referensi pihak ketiga

Dan puncaknya adalah ketika pada tanggal 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 diadakan pembacaan teks proklamasi yang menyebutkan bahwa bangsa ini telah berdiri sendiri tanpa campur tangan asing. Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keduanya, mengingat darah dan keringat para pejuang akhirnya tak sia - sia juga. Apalagi sehari setelah itu Hatta ditunjuk mendampingi Soekarno untuk menjadi wakil presiden, bertambah bahagialah beliau.

Namun pada dasarnya, kedua pahlawan ini memiliki sudut pandang yang bertolak belakang dalam dunia politik, sering terjadi pertentangan pendapat diantara keduanya. Tak seperti magnet yang jika kedua kutub yang berbeda saling didekatkan maka akan terjadi gaya tarik menarik, tapi tidak dengan keduanya, mereka akan saling menghempaskan dan berusaha mempertahankan pemikirannya.

Tapi walau bagaimanapun apa yang terjadi di dunia politik tak akan menimbulkan keretakan sedikitpun pada persahabatan mereka, keduanya tetap terlihat berjalan seiring sebagai sepasang sahabat.

Pada awal - awal kemerdekaan negara Indonesia, semuanya berjalan sebagaimana semestinya, sampai pada akhirnya Soekarno mulai mengenal sokoguru Nasionalis Agama Komunis (Nasakom), yang dianggap sebagai langkah Soekarno yang bekerja sama dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Hatta sebagai seorang sahabat sekaligus rekan politik Soekarno secara berkala menasehati presiden Indonesia kala itu, segala macam omongan dan bujukan Hatta tentang jalan Soekarno yang sudah tak mencerminkan ideologi awal bangsa ini sama sekali tak digubris Soekarno.

Ya, memang pada saat itu Soekarno dengan ideologi demokrasi terpimpinnya menempatkan dirinya sebagai presiden seumur hidup Indonesia yang tentu hal tersebut tak disukai Hatta, sedangkan disisi lain Soekarno pun tak menyukai sistem multipartai yang menimbulkan banyak pertentangan politik di dalamnya. Seperti diketahui, Hatta lah yang menandatangani Dekrit Wakil Presiden no X tahun 1945 yang menganjurkan pembentukan partai politik.

Referensi pihak ketiga

Hingga pada akhirnya perbedaan pendapat kedua soulmate ini menimbulkan perpecahan, Hatta mengalah pada saat itu. Tahun 1956 wakil presiden pertama kita M. Hatta memilih mengundurkan diri, setelah pengunduran dirinya pada 1 Desember 1956, Hatta segera angkat kaki dari Istana Wakil Presiden di Merdeka Selatan. Dia pindah ke Jalan Diponegoro 57, memilih jadi orang biasa ketimbang terus menerus bersilang jalan dengan Soekarno. Inilah saat dimana dwitunggal Indonesia menjadi dwitanggal.

Setelah itu, Hatta memilih menjadi dosen diberbagai Universitas, serta tetap melanjutkan hobinya sebagai penulis, sekaligus mengkritisi kepemimpinan presiden Soekarno. Untuk kemudian tulisannya berjudul Demokrasi Kita yang diterbitkan Pustaka Antara pada Juni 1966, menjadi esai yang terkenal pada zaman itu.

Peperangan politik antar keduanya tetap berlanjut walaupun Hatta pada saat itu sudah tak menjabat sebagai wakil presiden, bahkan Soekarno harus menutup surat kabar yang menentang kepemimpinannya kala itu.

Kepemimpinan Soekarno yang semakin kearah komunis menimbulkan ketidak senangan berbagai pihak, tak terkecuali Jenderal Soeharto yang lambat laun akan menimbulkan boomerang bagi Soekarno sendiri.

Pada 11 Maret 1966, melalui surat perintahnya kepada Soeharto, pemerintahan Soekarno akhirnya runtuh. Peristiwa G30SPKI semakin menyudutkan Soekarno yang memang saat itu berada diposisi yang serba salah. Soekarno diasingkan dari atensi pihak luar oleh presiden Soeharto.

Referensi pihak ketiga

Namun walaupun begitu, hubungan persahabatannya dengan Hatta tetap berjalan sebagaimana mestinya. Hatta beberapa kali menjenguk Soekarno yang sedang sakit, begitu pula sebaliknya.

Bahkan, ketika Soekarno tengah berada dipengasingan Hatta lah yang menjadi wali atas pernikahan anak Soekarno, Guntur. Hal ini menjadi bukti betapa kuatnya ikatan persahabatan diantara mereka.

Referensi pihak ketiga

Dan yang terakhir, kisah sedih diantara keduanya lahir tahun 1970 ketika  Soekarno dirawat di RSPAD Gatot Subroto, karena penyakit ginjal yang semakin parah. Hatta datang untuk menjenguk sahabatnya. Di sana, mereka saling menyapa dan menanyakan kabar dan meminta maaf satu sama lain sebagaimana seorang sahabat. Beberapa hari setelah itu, Soekarno meninggal, tepatnya pada 21 Juni 1970.

Kutipan: nationalgeographic.co.id/berita/2015/08/pertemuan-bung-hatta-dan-bung-karno-tahun-1923, tirto.id/cara-legendaris-ala-hatta-mengkritik-sukarno-ciyQ, bobo.grid.id/Sejarah-Dan-Budaya/Sejarah/Kisah-Persahabatan-Soekarno-Hatta, merdeka.com/peristiwa/saat-hatta-meninggalkan-soekarno.html

Topic:
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot