UC News

Yolana ‘Tata’ Pengestika Awali Karir di Popsivo Atlet Voli asal Kediri Yang Moncer di SEA Games

Yolana ‘Tata’ Pengestika Awali Karir di Popsivo Atlet Voli asal Kediri Yang Moncer di SEA Games
MEDALI SEA GAMES: Tata saat berseragam kontingen Indonesia dan bersama anggota timnas bola voli di SEA Games Malaysia yang berhasil menyumbang medali perak setelah kalah dari Thailand.(DOKUMEN YOLANA TATA PENGESTIKA FOR RADAR KEDIRI)

Karirnya tak selalu mulus. Sering menjadi hiasan di bangku cadangan. Semangatnya yang tak pantang kendur membuat pelatih tim nasional bola voli meliriknya. Hasilnya, perak pertama di SEA Games setelah 20 tahun berhasil dia persembahkan bersama rekan-rekannya.

(DOKUMEN YOLANA TATA PENGESTIKA FOR RADAR KEDIRI)

------------------------------

“Cukup berat mengalahkan Vietnam. Saat final kami akui kemampuan Thailand memang lebih unggul. Tapi akhirnya, Alhamdulillah, we got it, medali perak!”

Itu komentar awal gadis jangkung asal Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini. Usianya memang baru 20 tahun. Namun prestasinya sudah layak diacungi jempol. Bergabung bersama timnas bola voli, Tata, demikian gadis bernam lengkap Yolana Bheta Pangestika ini dipanggil, menyumbangkan medali perak bagi kontingen Indonesia dalam SEA Games di Malaysia beberapa waktu lalu.

Memang hanya perak. Namun, menurut alumnus SMAN 1 Kandat ini prestasi tersebut bisa disebut rekor baru bola voli putri. Selama 20 tahun terakhir prestasi di SEA Games mentok pada medali perunggu. Hampir selalu di bawah Vietnam yang langganan perak. Baru pada SEA Games kali ini Indonesia sukses mengungguli Vietnam di semifinal. Walaupun masih gagal mengalahkan Thailand di final.

“Semoga bikin bangga masyarakat Indonesia. Terutama masyarakat Kabupaten Kediri. Selama 20 tahun ini kita menantikan perak,” sebutnya saat diwawancarai wartawan koran ini.

Bila hanya melihat fakta terbaru, mungkin orang hanya melihat keberhasilan Tata menembus ketatnya persaingan timnas bola voli. Padahal, di balik itu, perjuangannya dilirik oleh pelatnas SEA Games harus dilalui dengan bersusah payah. Tidak mudah jalan yang harus dilewati Tata. Jalan terjal pun sering dia temui sebelum bisa semoncer seperti sekarang ini.

Tata terpikat bola voli sejak kecil. Faktor utamanya adalah sang ayah. Ya, Djaman, sang ayah, adalah pelatih di klub bola voli Mitra Utama Kediri. Klub tempat Tata kecil memulai kemampuan bola volinya.

“Saya suka voli yak karena bapak saya pelatih Mas. Sejak dari itulah saya giat berlatih bersama Bapak,” terang perempuan kelahiran 17 Juli 1997 ini.

Tata juga menerangkan walaupun sejak lama dia ikut di Mitra Utama, tapi saat usia sekolah dia jarang mengikuti kejuaraan. Baik itu berupa pekan olahraga pelajar seperti popwil, popda, ataupun popnas. Satu-satunya kejuaraan yang dia ikuti saat SMA yaitu saat memperkuat sekolahnya, SMAN 1 Kandat, di kejuaraan antar-SMA se-Jatim. Saat itu kejuaraan berlangsung di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Alhamdulillah saat itu kami juara 1 Mas,” ujarnya.

Karir profesionalnya bermula pada 2015. Saat Tata masuk Proliga, kompetisi bola voli profesional. Mengawali karir di klub Petrokimia, dia dan rekan-rekannya saat itu hanya mampu mengakhiri kompetisi di peringkat kelima.

Musim berikutnya, 2016, Tata pindah klub. Dia ganti memperkuat Popsivo Polwan. Sayang, di klub ini karirnya kurang bersinar. Lebih banyak sebagai pemain cadangan.

“Namun di klub ini (Popsivo Polwan, Red) saya hanya dimainkan di putaran pertama saja. Di putaran berikutnya sampai empat besar saya enggak main sama sekali,” terang putri pasangan Djaman dan Astuti ini.

Jalan emasnya mulai tersaji pada musim 2017. Karirnya mulai menanjak. Berawal dari kepindahannya ke klub Jakarta Elektrik PLN. Di klub ini mentalnya terasah semakin baik. Salah satu kuncinya adalah faktor pelatih. Pelatih di klub ini sangat memotivasinya. Di tangan pelatih asal Tiongkok yang disapanya dengan panggilan Kak Mei, kemampuannya semakin terasah.

“Kak Mei pelatih yang hebat. Bisa membuat mental dan semangatku bertambah. Dia juga membuat aku bisa menunjukkan kemampuan yang aku miliki,” ujar anak bungsu dari dua bersaudara ini.

Sebelum bermain di Jakarta Elektrik PLN Tata mengaku minder. Gara-gara karirnya di Proliga selama dua tahun yang kerap jadi penghias bangku cadangan. Tetapi semenjak ketemu Kak Mei semangatnya kembali besar untuk bermain voli. Kata-kata Kak Mei yang terus dia ingat adalah ucapannya ‘Kak Mei saja percaya Tata, masak Tata tidak percaya diri sendiri’. Kata-kata itulah yang menjadi penyemangatnya hingga saat ini.

Dari situlah Tata menjadi termotivasi hingga sekarang. Hingga akhirnya di tim baru itu dia bisa membawa Jakarta Elektrik PLN meraih gelar juara di Proliga. Tidak hanya membawa klubnya menjadi juara Tata saat itu mendapatkan gelar sebagai tosser terbaik.

“Itulah juara satu Proliga pertama kali bagi saya Mas. Dan selang waktu satu bulan, saya dipanggil pelatnas bola voli SEA Games dan terpilih di antara 14 pemain,” ujar alumnus SMPN 1 Ngasem ini.

Di SEA Games Malaysia perjuangan timnas tidak mudah. Demi mencapai target minimal, meraih perak, setiap hari dia dan teman-temannya harus menjalani latihan berat. Kemudian, satu pertandingan ke pertandingan lain harus mereka jalani dengan berat. Terlebih saat pertandingan semifinal melawan Vietnam. Tim Indonesia harus susah payah kejar mengejar perolehan angka. Sebelum bisa menutup pertandingan dengan keunggulan 3-2.

“Saat final kita akui keunggulan Thailand. Mereka itu sudah tim kelas dunia. Dengan medali perak ini saya sudah bersyukur banget,” akunya.

Di timnas, Tata tergolong junior. Hampir seluruh rekannya adalah pemain senior. Namun, keakraban sangat terjalin di timnas lalu. Kedekatannya dengan senior juga tak berjarak.

Dia juga punya pengalaman terkait dengan kedekatannya dengan senior-seniornya. Saat itu dia baru saja mendapat drill mengembalikan 100 bola. Membuatnya lelah dan tiduran di lapangan. Tanpa dia ketahui, anggota timnas lainnya mengangkat tubuhnya bareng-bareng. Kemudian diceburkan ke kolam ikan di depan GOR Padepokan Sentul, lokasi pelatnas.

“Soalnya hari itu aku pas ulang tahun. Tidak cukup di situ aku juga diguyur air cucian piring. Itulah kedekatan kami di sela-sela beratnya latihan,” ungkap Tata.

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan