UC News

Tari Ianfu dan Kamar Nomor 11

Tari Ianfu dan Kamar Nomor 11
Tari Ianfu dan Kamar Nomor 11 (dok.timlo.net/heru murdhani )

Solo — Sebuah buku biografi Mardiyem berjudul Momoye: Mereka Memanggilku karya Eka Hindra dan Koichi Kimura menggilhami seorang koreofrafer asal Kota Bengawan, Dwi Surni Cahyaningsih dalam membuat dua komposisi karya tari berjudul Ianfu dan Kamar Nomor 11. Dua karya tersebut dipertunjukkan dalam peristiwa peringatan Hari Ianfu Internasional ke-5 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Lentingan, Jebres, Solo, Senin (14/8) malam.

“Pementasan ini merupakan upaya advokasi dengan pendekatan kultural, agar masyarakat lebih mengerti terhadap isu Ianfu di Indonesia,” ungkap wanita yang akrab disapa Surni tersebut dalam rilisnya.

Tari berjudul Ianfu berkisah tentang Mardiyem yang ditipu oleh tentara Jepang. Mardiyem yang lincah dan baru berusia 13 tahun dijanjikan untuk menjadi pemain sandiwara di Telawang, Kalimantan Selatan. Namun ternyata Mardiyem disekap dan dijadikan budak sex khusus bagi Tentara Jepang di sebuah rumah panggung yang populer dengan sebutan Lanjo. Mardiyem dan 23 perempuan muda usia 13-21 tahun tersebut menjadi korban praktik sistem perbudakan seksual tentara Jepang (Ianfu) tahun 1942-1945.

Tari Ianfu divisualkan dengan empat orang penari bocah yang sedang bermain layaknya anak-anak pada usianya. Namun mimpi indah itu sirna saat Jepang masuk ke Indonesia. Kehadiran Jepang digambarkan dengan boneka berwarna putih yang digantung diatas panggung.

Empat orang penari tersebut berganti-ganti peran dalam iringan komposisi bunyi yang diaransemen oleh Yenni Arrama alias Kriwil.

Sedangkan pada karya kedua, Surni menghadirkan setting sebuah tempat tidur kuno, lengkap dengan kelambu putih. Karya berjudul Kamar Nomor 11 ini terilhami oleh Mardiyem yang menempati kamar nomor 11.

Didalam Lanjo tersebut, terdapat 24 kamar. Disetiap pintu kamar terdapat nomor kamar dan nama-nama Jepang. Dikamar nomor 11 itulah Mardiyem selama 3,5 tahun setiap hari mengalami perkosaan 10-20 kali setiap harinya.

“Bahkan nasib buruk masih menimpa para penyintas sesudah perang Asia Pasifik berakhir. Mereka mengalami trauma seksual yang luar biasa. Yang meneror jiwa dan raga mereka hingga saat ini,” ujarnya.

Dikatakan bahwa sejak Indonesia merdeka pada 72 tahun silam, pemerintah Indonesia masih bersikap pasif terhadap para penyintas Ianfu Indonesia. Begitu juga pemerintah jepang yang masih mengelak bertanggungjawab atas nasib 400.000 perempuan Asia Pasifik dan Belanda yang menjadi korban praktik biadab tersebut.

“Melalui kisah perjuangan Mardiyem yang ditarikan ini, kami berharap akan mendorong kesadaran publik untuk bersama-sama menyuarakan keadilan bagi para penyintas Ianfu di seluruh Indonesia,” katanya.

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan