UC News

Rujak Terakhir Tak Sempat Dinikmati

Rujak Terakhir Tak Sempat Dinikmati
BERDUKA: Syamsudin (kiri), mertua Abdur Rozak, menemui wartawan dengan ditemani cucu dan besannya.

Seharusnya kemarin Abdur Rozak tiba di rumahnya di Dusun Payung, Desa Suci, Panti. Bertemu dengan Siti Nur Isyatul, istri dan putra semata wayangnya, yang belum genap berusia dua tahun.

Masakan untuk suami pun sudah siap. Rujak menjadi menu sahur Rozak, sudah dipesan sang suami lewat telepon sore sebelumnya. Namun, news feed di media sosial mengubah semuanya.

Masih memegang ponselnya, Siti Nur Isyatul tidak percaya jika berita yang dia baca di media sosial itu benar-benar terjadi. Berita yang mengumumkan bahwa suaminya menjadi korban tewas dalam kecelakaan maut di Gilimanuk, Bali.

Kecemasannya makin nyata setelah ponsel Rozak tak bisa dihubungi. Demikian pula teman-temannya. Barulah ketika Syamsudin, ayahnya mendapat kabar dari tetangga mengenai kecelakaan tersebut, wanita berhijab ini langsung menangis histeris.

Sejak sebulan lalu, Rozak bersama belasan buruh bangunan lainnya memang bekerja di Bali. Mereka menggarap sebuah proyek pembangunan vila di Pulau Dewata tersebut.

Rozak sudah biasa berkelana ke luar pulau mengais rezeki bagi keluarga dan orang tuanya. “Sebelum ini dia merantau ke Kalimantan sekitar empat bulan,” tutur Syamsudin, ayah mertua Rozak.


Menjelang Idul Fitri, Rozak memang berencana pulang ke Panti setelah satu bulan bekerja. Maka tak heran jika berbagai rencana telah disusun sedemikian rupa.

Termasuk, membangun ulang tempat tinggalnya yang masih berbilik anyaman bambu. Semua bahan bangunannya sudah siap, termasuk 60 sak semen dan batako yang dicetak sendiri oleh Rozak. “Tadinya mau dibangun sekarang, tapi kata Rozak tunggu habis Lebaran,” kenang Syamsudin.

Tak hanya itu, Rozak juga berencana mengajak Is – panggilan akrab Siti Nur Isyatul– serta putra semata wayangnya untuk liburan ke Watu Ulo. Kemudian, usai Lebaran nanti, Rozak juga hendak memboyong keluarga kecilnya ikut ke Bali dan membuka warung makan lalapan di sana.

Sehari-harinya pria asal Panti ini memang dikenal jago masak dan sering memasak untuk teman-teman dan keluarganya. “Disuruh sama bosnya, sudah nggak usah di bangunan lagi, bikin warung lalapan aja,” kenangnya. Semua rencana itu pupus, setelah Is menemukan nama Rozak di media sosial sebagai korban tewas dalam kecelakaan tersebut.

Tak ada firasat khusus yang dirasakan Is sebelum kepergian sang suami untuk selamanya. Terakhir kali ibu dari satu putra ini mendengar suara Rozak ketika suaminya menelepon sore sebelum kecelakaan terjadi. “Dia cerita, cuman buka puasa dengan air putih dan roti karena nggak sempat ke warung,” ujar Is ketika ditemui di kamarnya yang hanya berukuran lima meter persegi.

Almarhum menjanjikan kedatangannya sekitar dinihari kemarin, tepat pada waktu sahur. Dia juga berpesan pada istrinya agar menyiapkan menu sahur yang spesial. “Dia bilang, nanti pengen sahur pakai rujak. Makanya saya siapkan,” kenangnya. Sayang, rujak terakhir yang disiapkan Is tak sempat dinikmati oleh sang suami.

Sejatinya, pada perjalanan dari Bali menuju Jember itu, ada dua mobil yang berjalan beriringan. Hal itu diungkapkan oleh Syamsudin melalui tetangganya. Kebetulan, tetangganya ini tergabung di mobil kedua. “Rombongan di mobil kedua ini tahu kalau ada kecelakaan, tapi tidak sadar kalau yang mengalami kecelakaan itu teman-teman mereka. Baru setelah mereka mau nyebrang, mereka ditelepon sama korban selamat,” ujarnya.


Meski hanya berprofesi sebagai buruh bangunan, namun Rozak dikenal oleh tetangganya sebagai sosok yang ramah dan tak ragu membantu orang lain. Bahkan, dia enggan dibayar ketika membantu proses pembangunan rumah tetangganya. “Biar sudah nggak usah dibayar, biar jadi pahala saja nanti,” ujar Syamsudin, menirukan ucapan Rozak kala itu.

Rozak menikah sekitar empat tahun lalu dan dikaruniai dua anak. Tetapi, anak pertama meninggal dunia. Anaknya yang masih kecil itulah yang menjadi semangatnya untuk merantau bekerja sebagai kuli bangunan.

Keluarganya tidak memiliki firasat apa pun saat Rozak akan berpulang selamanya. Namun, ketika kabar kecelakaan itu terdengar, mereka semua berkumpul di rumah Rozak. Anaknya tampak digendong oleh neneknya. “Kami tidak punya firasat apa pun tentang Rozak,” tandas Syamsudin. (gus/lin/c1/har/jawapos.com)

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan