UC News

Review The Limehouse Golem: Tidak Buruk, tapi Juga Tidak Istimewa

Review The Limehouse Golem: Tidak Buruk, tapi Juga Tidak Istimewa

Drama thriller The Limehouse Golem yang berlatar di abad 19 ini punya semua elemen yang bisa digunakan untuk membuat sebuah tontonan yang baik. Sayangnya, meskipun bukan film yang buruk, film ini memiliki beberapa kekurangan dan keterbatasan yang menghalanginya menjadi sesuatu yang spesial.

Di tengah maraknya film-film superhero dan aksi dari waralaba-waralaba besar, terkadang muncul kerinduan akan film-film dari genre yang skalanya lebih kecil, cenderung punya segmen penontonnya sendiri, namun juga punya daya tarik yang kuat.

Salah satunya adalah costume drama atau period drama. Jenis drama favorit para penyuka budaya Inggris ini memang sudah agak jarang muncul di layar lebar dan lebih “betah” dengan format layar kecil, terbukti dengan suksesnya serial TV seperti Downtown Abbey dan Ripper Street.

Namun, jenis drama ini tidak berdiam terhadap satu genre saja, karena selain drama, kisah-kisah detektif seperti duologi Sherlock Holmes juga sukses besar dan populer di kalangan penonton. Genre detektif digabungkan dengan latar Inggris era Viktoria memang terbukti cocok karena memiliki visual yang atmosferik dan sangat khas.

Tahun ini, The Limehouse Golem muncul sebagai pelepas rindu dari genre yang dimaksud. Karena selain berlatar di Inggris era Viktoria, film ini juga sangat cocok bagi mereka yang menggemari kisah-kisah misteri pembunuhan seperti Jack the Ripper atau buku-buku karya Sir Arthur Conan Doyle dan Agatha Christie.

Namun, apakah dengan sekedar mengandalkan rasa rindu saja cukup untuk membuat The Limehouse Golem menjadi tontonan yang memuaskan? Mari kita simak ulasanya di sini!

Sinopsis

Rentetan pembunuhan yang sangat keji tengah meneror penduduk kota London. Dari target pembunuhan yang acak dan jasad-jasad korban yang ditingal dalam kondisi yang amat mengenaskan, sang pembunuh kemdian dijuluki sebagai “The Limehouse Golem”; makhluk mistis dari cerita rakyat bangsa Yahudi.

Di saat yang sama, John Cree (Sam Reid); seorang dramawan amatir ditemukan tak bernyawa di rumahnya sendiri oleh sang istri; Elizabeth Cree (Olivia Cooke) yang merupakan mantan penyayi panggung. Meskipun mengaku dirinya tak tahu apa-apa soal kematiannya, ia dituduh oleh sang pembantu rumah sebagai pelaku pembunuhan dan berakhir menjadi tersangka.

Inspektur John Kildare (Bill Nighy) yang dibantu oleh anggota Scotland Yard George Flood (Daniel Mays) kemudian ditugaskan untuk mengejar jejak sang pembunuh. Investigasinya berujung pada empat orang tersangka yaitu filsuf Karl Marx (Henry Goodman), novelis George Gissing (Morgan Watkins), aktor panggung terkenal Dan Leno yang dulunya mentor Elizabeth (Douglas Booth), dan mendiang John Cree sendiri.

Kildare kini harus berusaha menyusun teka-teki dengan meminta bantuan Elizabeth yang kini ditahan di penjara, untuk mengungkap kasus pembunuhan Limehouse Golem sekaligus membebaskan gadis malang itu dari tuduhannya.

Dengan premis yang menjanjikan, apakah The Limehouse Golem bisa mengeksekusinya dengan baik? Lanjutkan membaca di halaman kedua!


Penceritaan Yang Agak Terburu-buru

Seperti yang dibilang sebelumnya, Limehouse Golem punya semua elemen untuk membuat kisah misteri yang bagus dan mencekam.

Mulai dari cerita dan dialog pun juga tergolong cukup baik, sayangnya film ini terkesan agak terlalu terburu-buru dalam penceritaannya sehingga beberapa penonton mungkin terasa agak sulit mencerna informasi yang datang secara bertubi-tubi.

Paruh awal film ini terasa bergerak amat cepat. Penonton tidak diberi waktu untuk diperkenalkan dengan tokoh-tokoh utama di film ini meskipun terlihat jelas ada usaha dari sang sutradara untuk berusaha memberi sedikit petunjuk-petunjuk akan latar dan masa lalu beberapa tokoh utamanya. Editing yang agak kasar pun tidak membantu hal ini.

Kekurangan-kekurangan di atas memberi kesan bahwa kisah The Limehouse Golem mungkin bisa diceritakan lebih baik bila dibuat menjadi miniseri empat jam, ketimbang film bioskop berdurasi kurang dari dua jam.

Untungnya, mendekati pertengahan, tempo film mulai bergerak dengan cukup sabar. Pelan-pelan, benang merah dari misteri-misteri yang diperlihatkan di paruh awal mulai dijelaskan secara satu persatu.


Film ini juga seolah terbagi menjadi dua buah bagian. Yang satu ber-setting di masa kini dengan fokus pada karakter Inspektur Kildare, dan yang satunya lagi mengisahkan tentang masa lalu karakter Elizabeth yang bangkit dari hidupnya yang miskin menjadi seorang penyanyi panggung terkenal, yang karirnya kemudian juga berakhir menyedihkan.

Menggunakan teknik penceritaan yang maju-mundur untuk dua kisah yang awalnya seperti tidak berhubungan ini menjadi salah satu keunggulan The Limehouse Golem. Meskipun di awal terasa agak membingungkan karena tempo yang terlalu cepat, lama kelamaan kedua kisah ini seolah-olah menyatu dan keduanya juga sama-sama memegang peranan penting dalam resolusi kasus pembunuhan itu.

Alih-alih menggunakan Kildare sebagai tokoh utama, Elizabeth -atau biasa dipanggil Lizzie- adalah fokus utama dari kisah pembunuhan ini. Perannya sebagai narator yang tidak bisa diandalkan menambah unsur suspense dan misteri, karena tiap karakter yang ada di dalam kisah Lizzie memiliki sangkut paut dengan teror pembunuhan Golem.

Adapun yang menyelamatkan The Limehouse Golem dari nasibnya yang berpotensi menjadi tontonan yang generik adalah endingnya. Cara film ini mengungkap kasus pembunuhan Golem terasa begitu cerdik, kejam, dan memuaskan. Dijamin penonton akan merasa dibodoh-bodohi, dan tentu saja dalam artian yang baik, karena kisah misteri yang baik memang semestinya demikian.

Sisi Teknis dan Akting Yang Memuaskan

Tidak lengkap membicarakan sebuah film tanpa membahas sisi teknis seperti sinematografi dan akting.

Kekuatan terbesar The Limehouse Golem terletak pada akting kuat dari para pemain utamanya. Limehouse Golem tidak memiliki banyak pemain bintang selain nama besar Bill Nighy, namun dua aktor muda yang menjadi lawan main Nighy di sini berhak mendapat pujian yang lebih.

Olivia Cooke tampil dengan sangat meyakinkan sebagai Lizzie yang ditinggal mati oleh suaminya. Mulai dari gerak-geriknya, tatapan mata, dan gaya bicaranya sukses menampilkan sosok yang sangat mudah menarik simpati penonton.

Cooke berbagi banyak adegan dengan Nighy yang lebih senior, namun di beberapa bagian ia sanggup melampauinya, sebuah pencapaian yang cukup mencengangkan. Salah satu “penemuan” besar di antara aktor-aktor muda yang tengah naik daun tahun ini setelah Fionn Whitehead dan Barry Keoghan.

Douglas Booth juga tampil apik sebagai Dan Leno yang karismatik. Gambaran sosok aktor panggung era abad 19 terasa sangat hidup berkat akting Booth, namun ia juga mampu menampilkan sisi gelap yang lebih misterius.

Satu lagi aspek terbaik dari The Limehouse Golem adalah dari production value yang terlihat meyakinkan. Dana film ini memang tergolong cukup kecil dibandingkan film-film dengan genre serupa, namun mulai dari lorong-lorong kota London yang kotor dan lembab, aula teater yang megah, sampai ke kostum-kostum karakter semuanya tampak keren.

Sinematografi di film ini juga memberi kesan megah sekaligus mencekam, pemilihan filter warna di film ini juga tidak sembarangan karena juga memiliki substansi sendiri ke dalam ceritanya.

Kisah Kildare yang berfokus pada investigasi kasus pembunuhan memiliki filter warna yang lebih sendu dan gelap, memberi kesan misteri yang kuat. Sedangkan kisah masa lalu Lizzie diberi filter warna yang lebih hangat dengan warna-warna yang lebih terang, menggambarkan dunia di mata Lizzie yang pada saat itu masih polos.

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan