UC News

Penyakit Tak Menular jadi Ancaman Kesehatan Baru di Afrika

Masyarakat Afrika kian akrab dengan hipertensi, kanker, dan ragam penyakit kardiovaskular. Geliat industri farmasi diharapkan bisa menanggulanginya.

Penyakit Tak Menular jadi Ancaman Kesehatan Baru di Afrika
Ilustrasi akses kesehatan di Afrika. FOTO/REUTERS/Finbarr O’Reilly

tirto.id - Afrika bukan lagi wilayah yang serba terbelakang seperti yang digambarkan para orientalis, kolonialis klasik, atau konser-konser amal. Pertumbuhan ekonomi benua itu dalam beberapa dekade terakhir memang belum merata ke semua negara. Namun mencatat rerata produk domestik bruto Benua Hitam naik secara perlahan. Warganya kian sejahtera, makin berpendidikan, angka kematian menurun, dan harapan hidup juga meningkat.

Meski demikian, narasi modernitas juga tak selamanya optimistis, apalagi untuk negara-negara Dunia Ketiga. Sebagaimana laporan (WHO) yang rilis pada Desember tahun lalu, perubahan gaya hidup kaum urban di Afrika dari sektor agraris ke sektor jasa membuat mereka makin rentan terkena penyakit tak menular.

Cerita mengerikan tentang wabah penyakit menular seperti HIV/AIDS, malaria, tuberkulosis, atau ebola memang masih ada. Namun gaungnya mulai disusul oleh fenomena makin akrabnya rakyat Afrika dengan kanker, diabetes, hipertensi, kolesterol, hingga penyakit-penyakit kardiovaskular lainnya sejak satu dekade terakhir. Mereka bak terkaget-kaget dengan perubahan gaya hidup, yang di beberapa negara berlangsung cukup drastis, hingga tak mampu mengendalikannya dengan bijak.


Penyakit tak menular kini jadi penyebab utama kematian di sebagian besar wilayah di dunia. Angkanya mencakup hingga 70 persen, demikian menurut data WHO. Pada tahun 2012, misalnya, penyakit tak menular menewaskan 38 juta orang. 80 persen di antaranya berasal dari negara berkembang, termasuk di Afrika. Sekitar setengah dari orang-orang ini meninggal dalam kondisi yang tergolong prematur alias sebelum menginjak usia 70 tahun.

Afrika, rumah bagi 54 negara berpenghasilan rendah hingga menengah, akan mengalami peningkatan kematian akibat penyakit tak menular dalam dekade berikutnya. Meskipun penyakit menular masih jadi ancaman di kawasan sub-Sahara, WHO memproyeksikan pada tahun 2030 penyakit tak menular akan menjadi penyebab kematian utama. Hal ini akan menjadi beban, bagi pemerintah negara-negara Afrika sebab populasi dalam 20 tahun ke depan akan meningkat dua kali lipat.


Di Afrika Utara, penyakit tak menular bertanggung jawab atas kematian tiga per empat penduduknya. Di Aljazair, Mesir, Libya, dan Maroko misalnya, lebih dari 75 persen kematian di tahun 2012 disebabkan oleh penyakit tak menular.

Hampir setengah populasi kawasan Afrika Utara juga sedang menderita hipertensi. Jika ditarik untuk seluruh Afrika, persentase untuk orang yang punya tekanan darah tinggi (di atas 140/90 mmHg milimeter merkuri) sudah mencapai 30 persen. Mereka rentan kena penyakit jantung koroner, stroke, ginjal, hingga gangguan penglihatan.

Tahun lalu WHO menerbitkan yang dihasilkan oleh pencarian data dari 33 negara di Afrika sub-Sahara, ditambah dengan survei kesehatan berbasis sekolah dari 19 negara. Disebutkan bahwa jumlah kematian akibat penyakit tak menular di tingkat global meningkat sebanyak 15 persen dibandingkan total kematian tahun 2010. 44 juta orang akan mati akibat penyakit tak menular pada 2020 mendatang, dan 4 juta di antaranya dari Afrika.

Penyebabnya adalah gaya hidup rentan seperti merokok, minum-minuman beralkohol, kurang berolahraga, dan mengonsumsi makanan yang tak sehat. studi WHO menemukan bahwa kebanyakan orang di wilayah Afrika sub-Sahara memiliki setidaknya satu faktor risiko yang menjadi bibit menuju terjangkitnya penyakit tak menular. Satu dari empat memiliki setidaknya tiga faktor risiko. Sementara satu dari empat orang memiliki sekurang-kurangnya tiga faktor risiko.


Konsumsi tembakau harian, yang terkait erat dengan kanker dan penyakit jantung, dilakukan oleh satu dari tiap sepuluh orang dewasa di Afrika. Kalangan pria mengonsumsinya sepuluh kali lebih tinggi di ketimbang perempuan. WHO pun menemukan peningkatan jumlah perokok di kalangan anak sekolah. Sekitar 17 persen siswa di Republik Seychelles, misalnya, telah mengaku menggunakan tembakau sepanjang tahun 2016.

Alarm peringatan telah dibunyikan, termasuk di Kenya. Dalam data yang dikutip , gaya hidup tak sehat menyebabkan penderita kanker di Kenya meningkat cukup tajam. Kondisi ini diperparah oleh sistem jaminan kesehatan yang masih buruk. Sejumlah media massa di Kenya telah melabeli fenomena mengkhawatirkan ini sebagai “krisis kanker”.

WHO memperkirakan bahwa 46 persen orang dewasa di Afrika sub-Sahara menderita hipertensi. Dr. Abdikamal Alisalad, ahli penyakit tak menular WHO untuk wilayah Afrika, memperingatkan bahwa selain menimbulkan penyakit-penyakit berbahaya lainnya, “hipertensi adalah pembunuh dalam diam, yang kebanyakan orang tidak menyadari kondisinya sampai akhirnya sudah terlambat.”

Berharap pada Industri Farmasi yang Sedang Menggeliat

Kabar baiknya, yang bisa jadi solusi terkait ancaman penyakit tak menular di Afrika, adalah geliat industri farmasi yang didukung oleh investasi asing. Dalam laporan CNN, perusahaan farmasi besar melihat Afrika sebagai kesempatan besar dengan meningkatnya jumlah kelas menengah terutama di wilayah perkotaan. Meski total pasarnya masih lebih kecil dibanding wilayah lain, Afrika dianggap potensial sebab karena permintaan akan obat-obatan pun naik seiring meningkatnya kekayaan perorangan.

Dalam analisanya untuk , akademisi Stellenbosch University Bernd Rosenkranz memberikan kesimpulan yang lebih sumringah lagi: industri farmasi Afrika adalah salah satu yang paling berkembang di dunia.



Lonjakannya terasa dalam sepuluh tahun saja. Dari yang bernilai $4,7 miliar pada tahun 2003 dan pada 2013 sudah mencapai $20,8 miliar. Berdasarkan proyeksi di tahun 2020, kebutuhan akan obat-obatan, obat generik, obat bebas resep dan peralatan medis di Afrika diperkirakan tumbuh antara 6-11 persen. African Development Bank mengeluarkan versi yang lebih menggembirakan: pada 2020 diperkirakan industri farmasi Afrika akan bernilai $40 hingga $60 miliar per tahun.

Meski demikian masih ada sejumlah kendala (kerap dibaca sebagai tantangan) di lapangan. Misalnya, masih minimnya peran negara untuk membekingi industri farmasi secara memadai karena sistem kesehatan yang masih amburadul.

“Belum termasuk soal sumber daya manusia untuk tehaga medis, termasuk fasilitas dalam hal ini rumah sakit, klinik, laboratorium, dan lain sebagainya. Kemudian kita juga memiliki masalah seputar pendanaan yang rendah sebab sektor kesehatan dianggap lebih sebagai sektor sosial. Tak cukup dana, baik dari pemerintah maupun donor,” papar Janet Byaruhanga dari Kantor Kesehatan Uni Afrika, sebagaimana dikutip , Mei 2013.


Akibat sebagian besar industri farmasi masih dikuasai swasta, mulai dari pengembangan (riset), produksi, hingga distribusi, harga obat di Afrika masih tergolong mahal dan kurang menguntungkan pasien dari segala usia. Jaringan distribusi juga membatasi penyaluran obat, karena diketahui bahwa orang yang akan membeli obat mereka masih sedikit.

Kondisi ini berdampak pada pesatnya industri obat generik yang diperlakukan sebagai tumpuan terakhir bagi para penderita penyakit tak menular di Afrika. Harga obatnya jauh lebih terjangkau, dan dikenal jadi andalan masyarakat di Afrika bagian selatan. Area yang tercatat memiliki penyebaran virus HIV cukup tinggi namun punya keterbatasan akses atas perawatan kesehatan yang memadai.

Dalam laporan peneliti dari South African Institute of International Affairs Erica Penfold yang dimuat , pertumbuhan industri obat generik telah mengakibatkan ketegangan produsennya dengan perusahaan farmasi multinasional besar. Perusahaan-perusahaan ini mengandalkan paten untuk melindungi kekayaan intelektual produk mereka.


Undang-undang tentang paten, seperti yang ditetapkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait Aspek Kekayaan Intelektual untuk Perdagangan (TRIPS) menetapkan bahwa paten berlaku selama 20 tahun sejak tanggal pendaftaran. Hal ini membuka kesempatan bagi produsen untuk membuat obatnya eksklusif untuk periode tersebut sehingga mereka dapat meraup keuntungan untuk menutupi modal penelitian dan pengembangan obat.

Sayang, praktik tersebut juga menempatkan kekuasaan pengelolaan harga obat di tangan perusahaan. Mereka sering seenaknya menaikkan harga obat demi pengumpulan keuntungan berlebih sehingga obatnya makin tak terjangkau bagi masyarakat miskin Afrika (dan negara-negara berkembang di benua lain).

Pekerjaan rumah untuk melindungi rakyat Afrika dari ancaman penyakit tak menular masih menumpuk. Jika ingin memulai dari penataan industri farmasi, pemerintah negara-negara Afrika mesti segera melibatkan diri dengan lebih serius lagi alias tak melulu pasrah pada mekanisme pasar bebas. Digabungkan dengan pengelolaan sistem kesehatan negara yang lebih solid, kesehatan warga Afrika di masa depan akan lebih terjamin.

Setidaknya mereka bisa sambil belajar atas apa yang telah terjadi di Barat: orang-orang menjemput kematian hanya gara-gara gaya hidup tak sehat—alih-alih akibat penyakit menular yang selama ini jadi momok menakutkan.

Baca juga artikel terkait atau tulisan menarik lainnya

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan