UC News

Pengamat Energi: Freeport Tidak Pernah Mengikuti Keinginan Indonesia!

Pengamat Energi: Freeport Tidak Pernah Mengikuti Keinginan Indonesia!
Freeport Indonesia (ANTARA/Agung Rajasa/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Dalam diskusi publik "Menakar Kinerja Kementerian ESDM Semester-1 2017," di Jakarta, Selasa (15/8) Pengamat Ekonomi Energi Dr Fahmi Radhi, MBA menegaskan Indonesia sebenarnya memiliki posisi kuat dalam perundingan dengan PT Freeport. Ia menambahkan, bila ancaman perusahaan PT Freeport selama ini untuk meninggalkan tambang emasnya di Papua hanya gertak sambal. "Karena bila berhenti produksinya harga saham Pt Freeport Mc Moran di New York akan rontok", ujarnya.

Fahmi yakin apabila PT Freeport selama ini meraih untung yang besar dari ekspor konsentrat. "Karena bila berhenti produksinya harga saham Pt Freeport Mc Moran di New York akan rontok", ujarnya Fahmi menyesalkan sikap Menteri ESDM Ignasius Jonan yang dituding "melempem" dalam perundingan dengan PT Freeport. "Pada awalnya berani, agak berani dan penakut," katanya.

Dengan demikian posisi PT Freeport sekarang berbalik menjadi diatas angin, akibat ketidakberanian kementerian ESDM untuk menyetop ekspor konsentrat yang masih berlangsung hingga September tahun ini. "Indikatornya semua keinginan Freeport selama ini secara perlahan dipenuhi (oleh Kementerian ESDM)," katanya.

Padahal, tambahnya masih diizinkannya ekspor konsentrat sudah menyalahi undang-undang Minerba. lebih lanjut Dosen UGM ini yakin bila PT Freeport tidak akan memenuhi tuntunan Indonesia, karena Ia melihat belum adanya komitmen yang tegas dari PT Freeport untuk memenuhi tuntutan Pemerintah Indonesia.

"Yang terucap dari Freeport itu belum ada. seperti komitmennya perubahan KK menjadi IUPK, beserta seluruh persyaratan IUPK terkait smelterisasi, divestasi saham 51% dan tax rezim prevaling," ujarnya lagi.

Pemerintah, masih menurutnya, kali ini harus lebih berani menyetop sementara izin ekspor konsentrat hingga pihak PT Freeport mau berkomitmen penuh untuk memenuhi tuntutan Pemerintah Indonesia. Untuk PT Freeport pilihannya cuma ada dua, "Take it or leave it", ujarnya semangat.

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan