UC News

Padukan Tata Boga dengan Fashion Wahyu Agung Adisetiawan, Perancang Gaun dari Cokelat

Padukan Tata Boga dengan Fashion Wahyu Agung Adisetiawan, Perancang Gaun dari Cokelat
ARTISTIK : Agung (kiri) bersama model yang menggunakan gaun kreatifitas(DOC Pribadi Agung for Radar Trenggalek)

Kreativitas pemuda Kota Keripik Tempe, tampaknya teruji di beberapa daerah. Seperti dibuktikan oleh Wahyu Agung Adisetiawan, pemuda asal Desa Gedangan, Kecamatan Tugu. Dia menggunakan cokelat untuk mempercantik busana wanita. Tak ayal gaun bermotif batik dari cokelat mendapat apresiasi berbagai pihak ketika ditampilkan dalam Jogja Fashion Week (JFW) 2017 akhir bulan lalu.

ZAKI JAZAI

Cokelat bukan hanya bisa dimakan, maupun digunakan untuk mempercantik makanan. Sebab, jika dikreasikan dan dipadukan dengan benda lainnya bisa menghasilkan karya yang indah, dan menarik perhatian. Inilah dilakukan Wahyu Agung Adisetiawan, yang mengkreasikan makanan dengan perpaduan rasa pahit dan manis tersebut menjadi bahan membatik sebuah gaun yang indah.

Ternyata, ide untuk mengkreasikan dua bahan yang berbeda kegunaanya tersebut tidak timbul dengan sendirinya. Sebab, beberapa kali Agung (sapaan akrab Wahyu Agung Adisetiawan) berkonsultasi akan penampilan tata boga apa yang bisa ditampilkan dalam sebuah acara fashion yang diikuti. “Setelah beberapa kali berkonsultasi, akhirnya saya memiliki ide, untuk memadukan antara tata boga den dengan fashion,” kata Agung.

Bahan makanan untuk membatik berupa cokelat, dipilih karena Jogjakarta terutama Gunung Kidul adalah salah satu penghasil Kakao. Dengan demikian diyakini bahan baku tersebut sangat mudah didapat. Namun permasalahan lain timbul, yaitu bagaimana cara agar cokelat itu sempurna menempel pada kain gaun, ketika dilukis batik. “Makanya kala itu saya mencari refrensi dan ide bagaimana agar cokelat menempel dengan sempurna pada kain organdi pembuat baju dari banyak media,” ungkapnya.

Tak ayal hal tersebut membuat dirinya harus beberapa kali lakukan percobaan setelah memahami cara-cara membatik cokelat pada gaun, pada setiap referensi yang didapat. Dari situlah kendati kerap menemui kegagalan ketika mencoba karena cokelat tidak sempurna menempel pada kain, Agung terus berusaha. Setelah beberapa kali menconba, akhirnya berhasil membuat gaun bermotif batik yang terbuat dari cokelat.

Mengenai cara pembuatan gaun bermotif cokelat sendiri tidak terlalu sulit. Awalnya cokelat dilelehkan sampai berbentuk cair, kemudian lelehan cokelat dimasukkan ke dalam piping bag untuk membentuk pola kain. Sedangkan, sebelum menggambar pola pada gaun, dibuat dasaran dulu dengan cara melumuri lokasi gaun yang akan dibatik dengan cokelat tipis-tipis. “Setelah pemberian dasaran selesai, barulah saya bentuk pola batik dengan cokelat yang telah dimasukkan dalam piping bag,” ungkap pemuda 19 tahun ini.

Bukan hanya itu, setelah proses pembentukan pola selesai agar rekatan sempurna, maka gaun yang diberi motif bati dari cokelat tersebut ke freezer. Barulah, beberapa jam sebelum ditampilkan, gaun tersebut dikeluarkan dari lokasi penyimpanannya.

Sedangkan untuk motif batik sendiri, diambil adalah motif batik ukel. Motif tersebut dipilih karena terinspirasi dari pohon jarak berbenalu yang berbentuk ikal dan bergelombang. Sedangkan untuk motif batik ukel sendiri, diutamakan pada rok gaun tersebut.

Bukan hanya itu, untuk menambahkan keindahan gaun sendiri ditambah aksesoris kalung dan kepala, bahan dasarnya terbuat dari spons hati. Tak ketinggalan, dalam aksesoris tersebut motifnya juga diberi cokelat cair. Dengan hasil karyanya tersebut, dirinya berharap bisa lebih memperkenalkan hasil alam Indonesia ke dunia. “Gaun dari cokelat ini merupakan hasil percobaan saya yang pertama, dan syukurlah berhasil,” jelas putra pasangan Moradi dan Mamik Triwinarsih ini. (and)

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan