UC News

[OPINI] Lebih Percaya Hukum atau Bakar Hidup-hidup?

[OPINI] Lebih Percaya Hukum atau Bakar Hidup-hidup?
news.108jakarta.com

Aneh rasanya jika perlakuan manusia sekarang ini tidak manusiawi. Bagaimana tidak. Contohnya peristiwa tragis yang terjadi di Bekasi baru-baru ini. Seorang pria tewas dikeroyok warga dan dibakar hidup-hidup hanya karena dituduh mencuri amplifier musala.

Banyak yang menyayangkan perbuatan tersebut. Video dan informasi begitu cepat menyebar di media sosial. Tak jarang netizen menyesalkan aksi anarkis tersebut. Kalaulah menurut penulis, istilah yang tepat menggambarkan kejadian tersebut adalah “Prasangka buruk menghasilkan tindakan buruk yang serupa”.

Ketika humanisme sudah hilang, kejadian seperti ini dibilang 'wajar'. Wajar karena di setiap sudut wilayah banyak orang yang main hakim sendiri. Lantas, apalah gunanya Negara yang mempunyai sebuah lembaga hukum jika tidak dipatuhi?

Menurut informasi dari berbagai sumber, gara-gara prasangka buruk tersebut menjadikan istrinya janda, anak berusia 4 tahun dan satu anak yang masih dalam kandungan menjadi yatim. Sungguh tega!

Penulis juga tidak habis pikir. Padahal pria tersebut adalah tukang service yang membawa masuk amplifier miliknya. Katakanlah pria tersebut memang mencuri. Tidak sepantasnya menghilangkan nyawa seseorang seenaknya dengan dalih “Dia mencuri”. Sebutkan hukum mana yang menghalalkan pembunuhan terhadap orang yang mencuri! Jawabannya TIDAK ADA SATU PUN! Apalagi tindakan tersebut tidak dengan bukti.

Berapakah harga sebuah amplifier? Lantas apa yang mereka lakukan ketika tahu salah sasaran? No one knows! Rasanya tidak adil jika hanya meminta maaf.

Karena menurut penulis, menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja merupakan pembunuhan. Sedangkan pembunuhan merupakan dosa besar yang harus dibayar secara setimpal.

Dengan kejadian tersebut, kita dapat memetik hikmah bahwa jangan sesekali melakukan tindakan tanpa bukti. Jikapun terbukti, serahkan kepada lembaga hukum yang berwenang. Jangan mudah tersulut emosi yang dapat menghilangkan sifat kemanusiaanmu.

Aneh rasanya jika perlakuan manusia sekarang ini tidak manusiawi. Bagaimana tidak. Contohnya peristiwa tragis yang terjadi di Bekasi baru-baru ini. Seorang pria tewas dikeroyok warga dan dibakar hidup-hidup hanya karena dituduh mencuri amplifier musala.

Banyak yang menyayangkan perbuatan tersebut. Video dan informasi begitu cepat menyebar di media sosial. Tak jarang netizen menyesalkan aksi anarkis tersebut. Kalaulah menurut penulis, istilah yang tepat menggambarkan kejadian tersebut adalah “Prasangka buruk menghasilkan tindakan buruk yang serupa”.

Ketika humanisme sudah hilang, kejadian seperti ini dibilang 'wajar'. Wajar karena di setiap sudut wilayah banyak orang yang main hakim sendiri. Lantas, apalah gunanya Negara yang mempunyai sebuah lembaga hukum jika tidak dipatuhi?

Menurut informasi dari berbagai sumber, gara-gara prasangka buruk tersebut menjadikan istrinya janda, anak berusia 4 tahun dan satu anak yang masih dalam kandungan menjadi yatim. Sungguh tega!

Penulis juga tidak habis pikir. Padahal pria tersebut adalah tukang service yang membawa masuk amplifier miliknya. Katakanlah pria tersebut memang mencuri. Tidak sepantasnya menghilangkan nyawa seseorang seenaknya dengan dalih “Dia mencuri”. Sebutkan hukum mana yang menghalalkan pembunuhan terhadap orang yang mencuri! Jawabannya TIDAK ADA SATU PUN! Apalagi tindakan tersebut tidak dengan bukti.

Berapakah harga sebuah amplifier? Lantas apa yang mereka lakukan ketika tahu salah sasaran? No one knows! Rasanya tidak adil jika hanya meminta maaf.

Karena menurut penulis, menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja merupakan pembunuhan. Sedangkan pembunuhan merupakan dosa besar yang harus dibayar secara setimpal.

Dengan kejadian tersebut, kita dapat memetik hikmah bahwa jangan sesekali melakukan tindakan tanpa bukti. Jikapun terbukti, serahkan kepada lembaga hukum yang berwenang. Jangan mudah tersulut emosi yang dapat menghilangkan sifat kemanusiaanmu.

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan