UC News

Metode Produksi Garam di Pantai Selatan DI Yogyakarta Yang Unik

Metode Produksi Garam di Pantai Selatan DI Yogyakarta Yang Unik
Produksi garam di Gunung Kidul (Gatra/Arif Koes Hernawan/yus4)

Yogyakarta,GATRAnews - Karena terbatasnya lahan akibat meningkatnya abrasi, kalangan nelayan di Pantai Samas, Bantul, DI Yogyakarta mengakali pembuatan garam untuk pengasinan ikan di rumah. Mereka memanfaatkan kotak-kotak sederhana, namun mampu menghasilkan sembilan kilogram garam grosok setiap hari.

Salah satu nelayan, Kadir, menceritakan pembuatan garam secara mandiri karena rusaknya kolam pembuatan garam untuk nelayan sejak 2016. Tingginya harga garam di pasaran juga menjadi alasan ia membuat garam sendiri.

“Dulu saat kolam pembuatan kolam beroperasi, nelayan di sini tidak kesulitan mendapatkan garam untuk pengasinan ikan karena mampu menghasilkan hingga 60 kilogram per hari,” katanya, Minggu (13/8).

Kadir menggunakan beberapa kotak kayu berukuran 40x25 centimeter dengan tinggi 5 centimeter. Ia memulai proses pembuatan garam dengan memasak air laut hingga mendidih untuk mendapat kadar garam yang tinggi. Usai dimasak, air laut matang ini kemudian dimasukkan ke dalam tabung sederhana dari botol plastik.Botol ini memiliki pipa pembuangan dan berisi kapas sebagai penyaring di bagian bawah.

Air laut yang sudah bersih dikucurkan pelan-pelan hingga memenuhi kotak kayu, kemudian dijemur untuk menghasilkan garam. Dalam proses penjemuran, jika mulai terbentuk kristal, air ditambahkan secara pelan-pelan.

“Waktu terbaik penjemuran dari jam 10 sampai sore. Kami belum bisa membuat kotak yang lebih baik, sehingga penjemuran memakan waktu lama. Jika kotak kayu dilapisi seng dan diberi tambahan plastik hitam tebal, maka proses pengeringan akan semakin cepat,” lanjut Kadir.

Dengan kapasitas masing-masing kotak 3 kilogram garam grosok, Kadir yang menyiapkan 3 kotak kayu mampu menghasilkan 9 kilogram garam dalam sehari.

Ketua Nelayan Samas, Sadino, menceritakan mangkraknya kolam pembuatan garam karena semakin dekatnya bibir pantai yang terjadi lantaran laju abrasi yang tinggi. Selain itu, tidak adanya pelatihan dari dinas dan kemunculan kemarau basah menambah alasan mandeknya produksi garam di Pantai Samas.

“Terkadang garam yang kami hasilkan tidak bersih karena sering kemasukan butir-butir pasir yang terbawa angin. Jadi dibutuhkan waktu yang lama dalam proses pembersihan,” pungkasnya.

Pemerintah DI Yogyakarta menilai sepanjang pantai selatan dari Bantul hingga di Gunungkidul potensial untuk dikembangkan sebagai ladang produksi garam kualitas premium.

“Dengan kontur pantai yang memiliki banyak koral, kawasan pantai Gunungkidul memiliki kandungan yodium hingga 36 ppm dan NaCi hingga 97%. Dengan bibir pantai yang datar, perkiraan produksi garam premium hanya butuh 7-10 hari saja,” jelas Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X saat meninjau calon lokasi sentra garam di Pantai Sepanjang, Gunungkidul, Sabtu (12/8).

Garam premium dipilih karena peluang pasarnya yang masih luas mulai dari industri budidaya ikan laut, makanan bayi, hingga produk olahan lain.

Khusus untuk produksi garam di Gunungkidul,pemerintah DI Yogyakarta akan memberikan prioritas pasar ke peternak ikan kerapu yang sedang berkembang di Sleman. Sebab dibandingkan dengan mendatangkan langsung air laut, peternak lebih suka mengubah air tawar menjadi asin karena irit biaya.

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan