UC News

Mengenal gangguan jiwa skizoafektif

VM, perempuan yang diberitakan berbelanja dalam keadaan nyaris telanjang ternyata mengalami gangguan jiwa skizoafektif. Apa sebenarnya skizoafektif?
Mengenal gangguan jiwa skizoafektif
Ilustrasi

Hasil tes kejiwaan yang dilakukan terhadap VM, perempuan muda yang diberitakan berbelanja di sebuah toko obat di kawasan Tamansari, Jakarta Barat dalam keadaan nyaris telanjang telah keluar pada Jumat (16/6) lalu.

Dikutip dari Detik, Kapolsek Tamansari AKBP Erick Frendriz menjelaskan bahwa kesimpulan dari tes kejiwaan tersebut adalah VM mengalami gangguan jiwa berat yang disebut skizoafektif dan gangguan kepribadian emosional tak stabil tipe ambang.

Oleh karenanya, VM tidak sadar pada apa yang terjadi dan yang dilakukannya. Dia juga tidak menyadari risiko dari tindakannya tersebut.

AKBP Erick juga menambahkan bahwa VM membutuhkan perawatan dan pengobatan psikiatri untuk mengatasinya. "Karena adanya perilaku yang berisiko membahayakan dirinya, maka terperiksa perlu pendampingan dan pengawasan ketat terus menerus selama perawatan dari keluarga," tegasnya.

Apa sebenarnya gangguan jiwa yang dinamakan skizoafektif itu?

Dari situs Mayo Clinic dijelaskan bahwa skizoafektif adalah gangguan mental yang terjadi pada seseorang. Merupakan kombinasi antara gejala skizoprenia dan gejala gangguan mood atau suasana hati.

Gejala skizoprenia misalnya halusinasi atau delusi, sementara gejala gangguan mood seperti depresi atau mania, jika gejala tersebut muncul pada saat yang bersamaan, munculah skizoafektif.

Biasanya, seperti dikutip dari Detik, penderita skizoafektif memang sering berhalusinasi dan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Gangguan yang dialami penderita juga bercampur dengan perasaan depresi, cemas, marah dan histeris.

Penderita skizoafektif yang tidak menjalani pengobatan biasanya mengalami kesulitan melaksanakan fungsi sosial dan tugas sehari-hari. Hal ini menyebabkan penderita skizoafektif biasanya mendapatkan masalah di tempat bekerja, sekolah maupun di lingkungan sosial. Secara fisik, penderita skizoafektif juga terlihat kotor dan berperawakan kurang baik.

Gangguan jiwa skizoafektif dibedakan menjadi dua jenis, yaitu jenis bipolar dan jenis depresif. Skizoafektif jenis bipolar membuat penderitanya mengalami mania dan depresi. Perubahan suasana hati yang cepat berganti, dari sangat bahagia berubah menjadi sangat sedih dan tertekan, atau sebaliknya.

Memang dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikannya. Namun, dilansir dari situs Klik Dokter, biasanya kelainan ini ditemukan pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa.

Sementara tipe depresif membuat penderitanya mengalami depresi berat, ditandai dengan perilaku retardasi, insomnia, kehilangan energi, kehilangan nafsu makan, kurang minat, gangguan konsentrasi, merasa bersalah, serta merasa putus asa.

Pada tipe depresif ini, secara bersamaan terdapat gejala-gejala skizoprenia yang khas, seperti merasa terancam, mendengar suara-suara yang menghina atau mengejeknya, merasa dimata-matai.

Gangguan yang lebih parah dapat menyebabkan penderita skizoafektif melakukan tindakan menyakiti atau mempermalukan diri, bunuh diri maupun membunuh orang lain.

Sayangnya, sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat menjelaskan kenapa seseorang dapat mengidap skizoafektif. Akan tetapi, menurut Mayo Clinic, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan skizoafektif, yaitu adanya anggota keluarga dekat yang menderita gangguan skizoafektif, skizoprenia atau bipolar.

Keadaan stress berat maupun penggunaan obat-obatan penenang jenis psikoaktif maupun psikotropika, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan skizoafektif pada seseorang.

Seorang dokter ahli jiwa akan dapat menegakkan diagnosis terhadap gangguan skizoafektif setelah melakukan beberapa tahap pemeriksaan. Tahapan-tahapan tersebut di antaranya adalah melalui pengecekan fisik, berbagai tes dan skrining kesehatan, serta evaluasi kejiwaan yang biasanya dilakukan dengan cara mengamati perilaku serta mewawancarai penderita dan berdiskusi dengan keluarga dekat.

Gangguan skizoafektif umumnya dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat. Tindakan penanganan terhadap penderita skizoafektif di antaranya dengan memberikan obat-obatan. Dokter akan memberikan resep obat antipsikotik untuk mengatasi halusinasi, delusi maupun perubahan suasana hati.

Selain pemberian obat-obatan, dokter juga akan melakukan konseling atau psikoterapi terhadap pasien skizoafeketif. Tujuannya adalah agar penderita dapat memahami, lalu mengatasi gangguannya.

Menentukan tujuan dan mengatur masalah sehari-hari yang terkait dengan gangguan ini. Keterlibatan keluarga dalam terapi ini akan sangat membantu mempercepat kesembuhan penderita skizoafektif. Latihan untuk meningkatkan ketrampilan bekerja dan kehidupan sosial, serta untuk mengurus kebutuhan diri sendiri sehari-hari, biasanya diterapkan pada penderita gangguan ini.

Sementara perawatan di rumah sakit akan sangat dibutuhkan oleh penderita yang memiliki kecenderungan melakukan kekerasan dan bunuh diri.

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan