UC News

Libur Lebaran, Volume Sampah Malah Berkurang

Libur Lebaran, Volume Sampah Malah Berkurang
Sampah liar berserakan di kawasan Sidokarto, Gamping mesk telah dipasang papan peringatan, Senin (17/4/2017). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

Selama Juni atau libur lebaran kemarin, volume sampah di wilayah Sleman justru turun

Solopos.com, SLEMAN- Selama Juni atau libur lebaran kemarin, volume sampah di wilayah Sleman justru turun dibandingkan Mei lalu.

Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pengelolaan Sampah Sleman Restuti mengatakan, selama libur lebaran tidak ada kenaikan volume sampah meskipun Sleman menjadi salah satu destinasi wisata. Tercatat selama Juni volume sampah yang dikumpulkan mencapai 4,163 ton atau turun dari Mei sebanyak 4,506 ton.

“Produksi [sampah] memang setiap hari ada tapi tidak ada kenaikan [sampah] yang signifikan,” katanya kepada Solopos.com, Rabu (5/7/2017).

Dijelaskan dia, khusus libur lebaran produksi sampah dikumpulkan lebih dulu di masing-masing pelanggan sebelum diangkut ke depo sampah. Sebab, petugas pengambil sampah diberi kesempatan untuk libur selama dua hari Minggu (25/6/2017) dan Senin (26/6/2017). “Hal ini sudah disampaikan kepada para pelanggan,” ujarnya.

Ditambahkan Staff UPT Pengelolaan Sampah Krisdiyanto, meski ada libur dua hari bagi petugas pemungut sampah selama lebaran namun untuk objek-objek vital pengambilan sampah tetap dilakukan. Misalnya di Lapangan Denggung di mana pada Sabtu (24/6/2017) malam digunakan sebagai tempat takbir keliling. “Petugas tetap membersihkan sampah karena pada pagi harinya digunakan untuk Salat Idulfitri,” jelasnya.

Selain itu, sampah-sampah dari rumah sakit juga diambil selama lebaran karena adanya permintaan. Begitu juga dengan sampah-sampah di jalan-jalan raya. “Untuk objek tertentu tetap kami beri prioritas sementara untuk menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Agar sampah yang tertahan selama dua hari lebaran tidak membludak, pihaknya lebih dulu mengosongkan depo-depo sampah yang dikelola. “Dua hari sebelum lebaran, sampah-sampah ditarik ke depo kemudian seluruhnya dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan,” katanya.

Menurutnya, turunnya volume sampah selama Juni disebabkan karena banyak warga yang mudik. Sebab dari produksi sampah rata-rata 4.000 ton perbulan, sekitar 3.000 ton berasal dari sampah domestik (rumah tangga).

“Adapun sampah dari niaga (usaha) sekitar 200 ton dan pasar-pasar tradisional 359 ton per bulan,” ujarnya.

Dia menyebut dibandingkan tahun lalu, ada sedikit kenaikan volume sampah tahun. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah pelanggan dari 556 pelanggan (2016) menjadi 566 pelanggan (Juli 2017).

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan