UC News

Laporan Haji, A. Basuni dari Makkah Mengunjungi Pasar Jakfariyah, Tasbih Koka Paling Diburu

Laporan Haji, A. Basuni dari Makkah Mengunjungi Pasar Jakfariyah, Tasbih Koka Paling Diburu
Pedagang menawarkan pernik-pernik tasbih dan gelang di kawasan Pasar Jakfariah, Makkah.(A. Basuni/Radar Mojokerto)

ADA banyak hal yang bisa dilakukan jamaah haji Indonesia selepas menunaikan rukun wajib haji di Tanah Suci. Selain fokus ibadah di Masjidilharam, berburu oleh-oleh ke pusat perbelanjaan adalah hal yang lumrah. Salah satunya mengunjungi pasar tua, yakni Pasar Jakfariyah.

Semua jamaah haji memang telah menyelesaikan seluruh rangkaian hajinya di Tanah Suci. Termasuk dari Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya sudah ada yang pulang ke tanah air dan berkumpul kembali bersama keluarga.

Akan tetapi, kondisi itu tidak dialami oleh jamaah haji asal Kabupaten/Kota Mojokerto yang masih harus menunggu jadwal kepulangan yang kini tengah berangsur-angsur dialami jamaah haji daerah lain. Pasalnya, sesuai jadwal, kloter 78, 79, 80, 81 dan 82 Embarkasi SUB (Surabaya) akan bertolak menuju tanah air pada 6 Oktober atau kurang tiga minggu lagi.

Nah, untuk mengisi kejenuhan jadwal yang masih panjang ini, berbagai aktivitas pun dilakoni jamaah dengan beragam cara. Beberapa di antaranya bahkan ada yang tetap fokus beribadah sunah, umrah sunah, dan sebagian memilih berwisata atau berziarah ke tempat-tempat bersejarah Islam. Akan tetapi, tak puas rasanya jika beribadah haji tanpa membawa pulang oleh-oleh khas Arab Saudi.

Padahal, kedatangan para jamaah telah dinanti anggota keluarga masing-masing beserta buah tangan yang didapatkan dari negeri Timur Tengah ini. Sehingga, banyak jamaah yang mulai menyempatkan hunting cendera mata atau suvenir khas Tanah Suci ke tempat-tempat khusus, demi mendapatkan barang bawaan.

Salah satu opsi pusat perburuan oleh-oleh paling banyak diserbu jamaah asal Indonesia adalah Pasar Jakfariyah. Lokasinya berada di Kota Makkah, tepatnya di pusat pertokoan di jalan Mahbasjin. Atau sekitar satu kilometer dari Masjidilharam.

Sehingga, bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 30 menit selepas salat dari Masjidilharam. Pasar ini merupakan pengganti pasar seng yang dibongkar sejak ada perluasan Masjidilharam beberapa tahun lalu. Meski demikian, di pasar ini juga terdapat kendaraan taksi, atau tepatnya bisa dibilang seperti angkot. Hal ini karena ongkos yang ditarik pengemudi cukup murah.

Yakni, hanya berkisar dua riyal per orang (sekitar Rp 7.500). Di sini, para jamaah bisa menjumpai berbagai macam barang yang diburu. Selain lengkap, ramainya pasar ini juga karena harga yang ditawarkan begitu murah dan bisa dijangkau jamaah haji Indonesia. Namun, jangan dibayangkan suasana di pasar ini seperti suasana di mal atau pusat perbelanjaan modern yang banyak didominasi oleh bahasa dan tulisan Arab. Sehingga, kurang banyak dimengerti jamaah lain.

Pasalnya, jika dirasakan sekilas, pasar ini mirip dengan pasar Tanah Abang atau Pasar Jatinegara di Jakarta, namun dengan ukurannya yang lebih kecil. Semua bangunan pasar berada di bawah bangunan hotel-hotel. Hal itu terlihat dari pemandangan lapak-lapak pedagang yang berjejer rapi di tepi jalan sebelum memasuki area dalam pasar yang didominasi pertokoan. Di pasar ini, banyak ditemui berbagai macam barang yang bisa dijadikan oleh-oleh khas Tanah Suci.

Seperti pashmina, pakaian muslim, jilbab, sajadah, ghutra (kain penutup kepala), busana gamis, hingga tasbih. Tak hanya barang, jenis kudapan atau panganan khas pun bisa dijumpai. Seperti, kurma, kacang arab, cokelat, dan lain sebagainya. Bahkan, juga benda lain semacam mainan anak dan barang elektronik, seperti jam tangan dan perhiasan. ’’Mau cari yang murah-murah untuk oleh-oleh,’’ kata seorang jamaah haji asal Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Namun, umumnya pasar murah, bukan berarti barang-barang tersebut berasal dari Arab Saudi. Ada beberapa yang barang impor yang diproduksi di luar Arab Saudi. Terutama dari Tiongkok yang begitu mendominasi. Juga negara pemasok lainnya.

Seperti India, Pakistan dan Turki. Jamaah yang tidak bisa berbahasa Arab tidak perlu khawatir soal tata cara pembelian barang. Pasalnya, selain ramah, hampir semua penjual dan penjaga toko ternyata bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Minimal, mereka mampu menerjemahkan harga-harga dalam Bahasa Indonesia.

Banyaknya pedagang yang bisa berbahasa Indonesia ini lantaran memang jumlah jamaah haji Indonesia yang terbesar dan terkenal royal membeli oleh-oleh dari sekian jamaah dari negara lain. Dengan demikian, para pedagang yang belajar berbahasa Indonesia demi kelancaran usahanya. ’’Murah, murah. Tidak mahal. Silakan ditawar-tawar,’’ kata pedagang tasbih yang sembari mengobral barang dagangan miliknya. Selain persoalan bahasa, kemudahan lain yang bisa didapat jamaah Indonesia adalah miringnya harga yang ditawarkan pedagang.

Di mana, selain terjangkau, harga yang mereka ajukan juga bisa ditawar, terutama jika membeli dalam partai besar. Sehingga cukup menghemat biaya jika dibandingkan dengan berbelanja ke pusat perbelanjaan lain. Ghurta misalnya, hanya dihargai antara 5-15 riyal, pashmina 5-10 riyal, dan tasbih mulai 5 riyal per lusin. ”Jika beli satu harga 10 riyal, namun beli 10 (lembar pashmina) bisa 8,5 riyal,” ujar salah satu jamaah yang membeli pashmina.

Di pasar ini juga menjual oleh-oleh yang paling diburu banyak pembeli. Yakni, tasbih yang terbuat dari dari bahan kayu koka. Tasbih ini memang cukup dicari lantaran sejarahnya yang konon merupakan bahan kayu tongkat milik Nabi Musa yang memiliki mukjizat mampu membelah laut merah. Namun, jamaah jangan terlalu gegabah dan harus hati-hati.

Sebab, menurut seorang tenaga musiman, seringkali yang dijual adalah tasbih yang berasal dari koka palsu. ’’Harganya bervariasi mulai dari 30-200 riyal, namun saya tidak beli takut palsu. Karena di Madinah ada yang harganya sampai 600 riyal,’’ kata Abdullah, jamaah asal Mojokerto.

Sementara itu, Ahmad Riyamin Tomo, jamaah lain menambahkan, walau harga tidak terlalu jauh dengan di toko-toko lainnya, namun pilihan di Pasar Jakfariyah sangat bervariasi dan banyak pilihan. Ahmad pun memborong jilbab. Tak salah, jika pasar ini disebut juga sebagai pasar ’’borong’’ lantaran banyak pembeli yang berbelanja dalam partai besar sebagai oleh-oleh. ’’Kami membeli tasbih dari koka harganya lebih murah,’’ pungkasnya.

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan