UC News

Korban First Travel di Kota Bandung Bisa Lapor ke Crisis Center Mapolrestabes Bandung

Korban First Travel di Kota Bandung Bisa Lapor ke Crisis Center Mapolrestabes Bandung
First Travel/ANTARAWarga menunggu mengurus pengembalian dana atau "refund" terkait permasalahan umroh promo di Kantor First Travel, Jakarta Selatan, Rabu, 26 Juli 2017 lalu.*

BANDUNG, (PR).- Sejumlah korban penipuan agen perjalanan First Travel di wilayah Kota Bandung membuat laporan di Mapolrestabes Bandung. Sebagai langkah tindak lanjut, Mapolres Bandung membuat crisis center, meski penanganan kemudian dilimpahkan ke Mabes Polri.

"Kami akan membuat posko, crisis center untuk mempermudah komunikasi dengan korban. Kami juga tetap berkoordinasi dengan Mabes Polri," ujar Kasat Reskrim Polrestabes Bandung Yoris Marzuki, Senin 28 Agustus 2017.

Pernyataan tersebut dikemukakan menyusul terus bertambahnya jumlah pelapor dari korban dugaan penipuan "First Travel" yang datang ke Mapolrestabes Bandung. Bahan keterangan dari para korban tersebut akan dikumpulkan untuk kemudian dilimpahkan penanganannya di Mabes Polri.

Salah seorang perwakilan korban, Andrian Darmaji mengatakan, diperkirakan jumlah korban di sekitar Kota Bandung mencapai 632 orang. Saat ini, baru 132 korban yang terakomodasi dalam satu laporan ke Mapolrestabes Bandung yang dihimpun sejak pertengah Agustus silam. Masing-masing korban sudah menyerahkan uang untuk bisa berangkat ke tanah suci dengan kisaran Rp 14-16 juta.

"Dengan adanya crisis center lokal di Bandung, saya undang korban yang berdomisili di Bandung untuk melapor ke sini," katanya.

Sepasang suami istri, Maman Warman (66) dan Emi Andriyani (58) menuturkan, mereka sejak beberapa waktu silam dijanjikan berangkat ke tanah suci. Sebagai syaratnya, uang sejumlah Rp 28 juta sudah diserahkan kepada pengelola First Travel. Namun hingga seluruh uang diserahkan, mereka tak kunjung berangkat. Waktu keberangkatan yang sudah dijanjikan diundur hingga tiga kali, yaitu bulan Maret, April, serta Mei.

Dalam perjalanannya, penantian mereka berakhir saat dugaan penipuan First Travel terkuak lewat pemberitaan media. Dengan membuat laporan secara resmi di kepolisian, mereka berharap uang yang sudah diserahkan bisa kembali agar tetap bisa menjalankan niat umroh. "Saya inginnya refund, lalu cari agen lain untuk pergi umroh," tuturnya.

Penelusuran aset

Sementara itu, Bareskrim Polri berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri aliran dana 31 rekening bank First Anugerah Karya Wisata atau First Travel.

"Ada 31 buku tabungan dengan nomor rekening berbeda yang sedang kami minta untuk cek ke PPATK untuk ditelusuri aliran dananya," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak di Kantor Bareskrim, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Selasa, 22 Agustus 2017, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Ia mengatakan di luar 31 rekening tersebut, ada sebanyak 13 rekening tabungan lainnya sudah diblokir. Tiga belas rekening tersebut diantaranya atas nama Andika, Anniesa, Siti Nuraida dan ada juga yang atas nama First Travel.

Herry mengatakan, total jumlah jamaah yang mendaftar paket promo umrah yang ditawarkan First Travel sejak Desember 2016 hingga Mei 2017 adalah sebanyak 72.682 orang. Sementara dalam kurun waktu tersebut, jumlah jamaah yang sudah diberangkatkan ada 14 ribu orang. Adapun jumlah jamaah yang belum berangkat sebanyak 58.682 ribu orang.

Sementara perkiraan jumlah kerugian yang diderita jamaah atas kasus ini sebesar Rp848 miliar yang terdiri atas biaya setor paket promo umrah dengan total Rp839 miliar dan biaya carter pesawat dengan total Rp9,5 miliar.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, Andika juga tercatat memiliki utang kepada penyedia tiket sebesar Rp85 miliar. Kemudian utang kepada penyedia visa Rp9,7 miliar, dan utang kepada sejumlah hotel di Arab Saudi sebesar Rp24 miliar.***

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan