UC News

Hidup Itu Proses, Bukan Tujuan

Hidup Itu Proses, Bukan Tujuan
Hayat (Desaign: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Setiap manusia mempunyai keinginan hidup yang bahagia, sehat jasmani dan rohani, hidup sejahtera dan damai, aman, tentram dan penuh kebaikan. Lumrah dan rasional jika keinginan itu menjadi harapan bagi seluruh umat manusia. Siap yang tidak ingin bahagia, hidup senang dan apa yang diinginkan terpenuhi.

Tidak ada masyarakat atau salah satu orang atau seseorang yang ingin hidupnya miskin, susah, dan berbagai kehidupan yang sengsar. Tidak ada pula seseorang mempunyai cita-cita yang tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya, misalnya bercita-cita menjadi orang yang gagal, orang yang hidupnya penuh dengan kesedihan dan lain sebagainya.

Kebahagiaan dan kebaikan adalah menjadi salah satu tujuan bagi hampir seluruh lapisan masyarakat. Baik masyarakat lapisan atas, masyarakat menengah maupun masyarkat dari lapisan bawah.

Sekalipun dalam faktanya bahwa manusia itu tidak bisa didikotomi atau di kelompokkan oleh apa pun dan oleh siapa pun. Manusia itu mempunyai jalan dan takdirnya sendiri-sendiri dan tidak boleh di pisahkan atau dipaksa untuk membuat gap. Tetapi usaha, tawakal, kesabaran, ketabahan, pasrah diri, maupun yakin atas seluruh apa yang terjadi adalah kehendak-Nya, maka sejatinya manusia itu akan menukan kebahagiaan di dalamnya.

Ada yang kaya dan miskin. Ada kebahagiaan pasti ada kesedihan. Dan hukum kausalitas lainnya yang menjadi gambaran bagi seluruh manusia untuk berpikir akan kekuasaan-Nya. Meyakini bahwa apa pun yang terjadi di muka bumi ini adalah atas ke Maha Agungannya, akan menjadikan diri kita semakin dekat dengan-Nya.

Melalui kedekatan dengan Tuhan-Nya niscaya akan menerima segala apa pun dalam kehidupannya melalui keyakinan atas kehendak-Nya.


Maka dengan demikian, sejatinya atas perbedaan yang sudah digariskan oleh Allah dalam kehidupan umat manusia dijadikan sebagai jalan menuju surganya. Yang miskin dan yang kaya harus saling membantu dan memberi, saling menghargai dan mencintai, saling mengisi satu sama lainnya agar kehidupan ini berjalan stabil dan seimbang.

Perbedaan kedudukan, keberadaan, maupun perbedaan yang lainnya menjadi proses yang dapat menyeimbangkan sistem dan tatanan kehidupan di muka bumi ini, dan itu hanya bisa dilakukan oleh manusia dengan segala kesempurnaan ciptaan-Nya.

Sesuai dengan firman-Nya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi. Mereka (malaikat) berkata, apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu? Tuhan berfirman, sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Oleh karena itu, untuk meraih kesuksesan, keberhasilan, kebahagiaan, tentu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak mudah dan penuh dengan tantangan dan rintangan. Tidak sedikit, pun tidak mudah. Perjuangan dan pengorbanan itu harus dibayar dengan harga yang mahal, memeras keringat, dan bahkan ada yang sampai taruhannya adalah nyawa.


Harus memeras otak dengan cara berpikir kreatif, inovatif dan inspiratif agar konsep dan hasil pemikirannya dapat bermanfaat bagi masyarakat dan dapat diterima, sehingga mempunyai nilai yang harus dibayar. Dan berbagai perasan-perasan kehidupan lainnnya yang dapat memberikan nilai keberhasilan atas perjuangan dan pengorbanan seseorang dalam kehidupannya.

Biasanya perjuangan dan pengorbanan itu diikuti oleh ujian yang juga tidak mudah, berat dan paatinya membutuhkan penyelesaian yang rumit. Disitulah Allah menyuruh manusia untuk membaca dan berpikir. Karena di dunia ini adalah universitas kehidupan sesungguhnya. Untuk meraih sebuah sarjana akhirat dan kebahagiaan surganya, tidak bisa didapat secara instan dan mudah.

Allah mengujinya sesuai dengan kemampuannya sebagai bentuk kasih sayang dan cinta Allah swt kepada hamba-Nya. Disitu pulalah Allah swt mengajarkan tentang bagaimana berproses dengan baik. Karena sesungguhnya yang terpenting adalah bukan hasil dari apa yang dijanjikan oleh-Nya, tetapi bagaimana proses yang dilakukan oleh hamba-Nya atas segala perintah dan larangan-Nya. (*)

Penulis adalah: Dosen Universitas Islam Malang, Peneliti di Lakpesdam NU Kota Malang

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan