UC News

Harumkan Nama Bangsa Awalnya Tak Diunggulkan

Harumkan Nama Bangsa Awalnya Tak Diunggulkan
PELARI CEPAT: Sertu Inf Atjong Tio Purwanto menunjukkan medali emas yang diraihnya dari ajang Sea Games di markas kesatuannya (7/9).(RINO HAYYU SETYO - RadarKediri/JawaPos.com)

Anak penjual sate yang berdinas di Yonif Mekanis 521/Dadaha Yodha Kediri ini mengharumkan nama Indonesia di Sea Games 2017 Malaysia. Perjuangannya keras. Sejak kanak-kanak, ia memang hidup dari berlari. Bagaimana kisahnya?

=======================

Tak banyak perkakas di ruangan bernuansa serba hijau tua itu. Hanya ada tiga anggota TNI sedang berjaga. Beberapa gelas plastik berisi wedang kopi tersaji di meja kayu. Selang lima menit kemudian, masuklah sosok bertubuh tegap. Matanya berbinar.

Tangannya menghormat takzim ketika memenuhi panggilan Pasi Intelijen (Intel) Yonif 521 Kediri Lettu Inf Faisal Pellu di ruang penjagaan. “Siap Atjong menghadap,” katanya.

Dia adalah Sertu Inf Atjong Tio Purwanto. Namanya menjadi perbincangan dunia olahraga lari tingkat Asia Tenggara. Ini karena keberhasilannya menyabet medali emas saat berlaga di Sea Games, Malaysia, Agustus lalu.

Tentara ini tak mengenakan seragam dinas doreng hijau hitam. Tubuhnya dibalut jaket kombinasi warna merah dan putih. Celana dan sepatu sport melekat di kakinya. Yang paling mencolok, sebuah kalung medali bersinar melingkar di lehernya

“Selain usaha dan doa, saya berterima kasih banyak kepada seluruh senior di kesatuan. Terutama Danyonif 521,” ungkap Atjong saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri, Kamis (7/9) lalu.

Ucapan terima kasih itu bukan sekadar formalitas. Mengingat dukungan dan semangat yang diberikan kesatuannya, mata Atjong yang tajam berkaca-kaca. Parasnya terlihat menahan haru. Mengapa?

Atjong mengaku, ini karena dukungan moral yang luar biasa dari sang komandan Macan Kumbang - simbol Yonif Mekanis 521- Danyonif Letkol Inf Made Sandy Agusto. Terlebih soal izin untuk masuk dalam pelatnas selama empat bulan di Jakarta. Semua dipermudah oleh sang komandan.

Peraih medali emas cabang lari 3000 meter ini adalah atlet yang dipanggil di akhir-akhir masa latihan. “Saya bukan yang diunggulkan pelatnas, tapi alhamdulillah malah bisa membawa pulang medali ini,” tutur Atjong sambil menunjukan medalinya.

Putra keenam dari delapan bersaudara pasangan suami istri Misan dan (almarhumah) Sumiati ini tidak pernah patah semangat. Meski pada 2015 ia sudah pernah meraih medali perunggu pada Sea Games di Thailand.

Pelatnas memang punya tujuh target medali emas dalam cabang olahraga (cabor) atletik. Namun nama Atjong tak termasuk atlet yang diperhitungkan pelatih. Meski begitu, ia berkomitmen untuk mengibarkan sang merah putih di langit Malaysia. “Saya sangat optimistis. Tidak ada nervous sama sekali saat bertanding,” aku pria asal Malang, Jatim ini.

Setelah menaklukkan seluruh peserta dan finis urutan pertama, Atjong langsung menghubungi seniornya, Serka Inf Shofiq. Saat ditemui koran ini, Shofiq memang mendampingi atlet 26 tahun tersebut. Menerima video call (vidcall) dari handphone (HP) juniornya, Shofiq langsung menyerahkan kepada Danyonif Made Sandy yang sedang melihat aksi anggota kesatuannya itu.

“Semua hormat kepada Atjong, kami hormat bukan berarti ia atasan, tapi lebih dari itu. Atjong sudah membawa nama negara ini menjadi yang terbaik,” sahut Shofiq.

Walau begitu, tak membuat Atjong jemawa. Pasalnya, keberhasilan tersebut tak lepas dari doa dan dukungan segenap kesatuan Yonif 521. Dua minggu sebelum Atjong berlaga di Sea Games, semua anggota menggelar Yasinan bersama usai salat Magrib. “Doa kami selalu menyertai dia. Kami benar-benar bangga ke Atjong,” terang Pasi Intel Lettu Pellu seraya mengusap air mata.

Prestasi Atjong merupakan buah perjuangannya untuk menjadi atlet. Sejak SD ia telah hidup dengan berlari. Mencari uang dengan berlari. “Saya itu dari kecil ikut andokan doro,” ungkapnya. Andokan doro adalah mengejar burung dara klebet atau yang dilombakan.

Dari aktivitas itulah awal Atjong suka berlari. Uang hasil mengejar burung dara dikumpulkan untuk biaya sekolah. Hingga akhirnya guru SD-nya melihat potensi di kaki anggota Macan Kumbang tersebut. Berkat latihan keras dan disiplin, juara mulai sering ia torehkan di Kota Malang.

Dari hadiah lomba-lomba itu, Atjong bisa membiayai sekolah hingga SMA. “Karena juara tingkat kota, saya dapat potongan uang SPP satu bulan. Tapi kalau tingkat provinsi dua bulan. Dan tingkat nasional saya bebas SPP satu semester. Jadi bisa tak membayar sama sekali,” paparnya.

Memasuki usia remaja belasan tahun, Atjong pun telah bekerja membantu orang tuanya. Bahkan dia menggantikan bapak ibunya berjualan sate di Jl Mawar, Kecamatan Lowokwaru, Malang.

Kini, semua kerja kerasnya tatkala belia berbuah prestasi gemilang. Namanya bergema se-Asia Tenggara. “Bersyukur Mas, usaha saya berhasil. Tapi tetap nggak boleh gampang puas,” jawab pemuda 26 tahun ini.

Atjong bertekad terus membawa nama baik Indonesia di tingkat dunia dengan cabor lari atletik. Kesempatannya yang masih panjang didedikasikan pada negara. “Semaksimal mungkin saya ingin membuat negara ini punya pelari seperti macan kumbang,” pungkas tentara kelahiran 17 Oktober 1991 ini.

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan