UC News

Dewan Riset Nasional Desak Pemerintah Bangun PLTN

Dewan Riset Nasional Desak Pemerintah Bangun PLTN
Kepala Batan Djarot (tengah) dalam diskusi tentang maanfaat reaktor nuklir di kantor Batan(Gatra/Arif KoesHernawan/yus4)

Yogyakarta,GATRAnews - Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Bambang Setiadi mendesak pemerintah segera mewujudkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk mendukung kebutuhan industri. Sebagai bentuk dukungan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah melakukan uji kelayakan pembangunan PLTN di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan dinyatakan siap.

Di sela-sela diskusi terbatas “Optimalisasi Pemanfaatan Reaktor Nuklir BATAN” di kantor BATAN DI Yogyakarta, Jumat (4/8), Bambang menjelaskan kebutuhan PLTN di Indonesia semakin mendesak. Salah satu faktornya adalah menipisnya ketersediaan sumber daya yang tidak bisa diperbarui seperti batu bara dan minyak bumi.

“Nuklir adalah energi terbarukan yang luar biasa dan tidak akan pernah habis. Semua negara maju seperti Perancis, Nowergia, dan Jepang hampir 70% kebutuhan listrik mereka disuplai dari PLTN,” katanya.

Selain itu, dengan tersedianya suplai energi dari PLTN, maka dunia industri terutama di Jawa dan Sumatera bisa bersaing dengan harga yang lebih kompetitif karena biaya produksi lebih murah.

Bambang menyatakan, secara umum, BATAN sebagai lembaga pemerintah yang memiliki tugas penelitian, pengembangan, dan pemberdayaan ilmu dan teknologi nuklir siap dipercaya mengembangkan PLTN.

“Kita tahu, Indonesia adalah pemiliki tiga reaktor nuklir terbesar di Asia Tenggara selama 30 tahun lebih dan selama ini tidak ada masalah. Stigma bahaya nuklir di masyarakat karena memang ekpose tentang manfaatnya kurang,” ujar Bambang.

Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan dukungan hadirnya PLTN di Indonesia ini tidak hanya berasal dari pihaknya. Dari survei yang dilakukan BATAN dalam tiga tahun terakhir, dukungan masyarakat terhadap PLTN meningkat.

“Dari survei yang melibatkan 4.000 responden pada 2014 dukungan masyarakat untuk PLTN mencapai 72%, kemudian 2015 mencapai 75%, dan 2016 menembus 77,35%. Tahun ini kita tidak mengadakan survei karena takut angkanya meningkat dratis,” kata Djarot.

Sebagai langkah awal untuk mempercepat pembangunan PLTN, BATAN telah melakukan uji kelayakan di dua provinsi yaitu Bangka Belitung pada 2011-2013 dan Nusa Tenggara Barat pada 2014-2017. Keduanya dinyatakan siap dan didukung pemerintah daerah.

Djarot menuturkan, sekarang yang dibutuhkan adalah kemauan dari pemerintah untuk mewujudkan PLTN. Sebab dukungan segera membangun PLTN juga diberikan DPR.

“Kita membutuhkan komitmen pemerintah dalam keberlanjutan pembangunan PLTN ini meski berganti Presiden. Karena untuk membangun PLTN dari nol sampai berfungsi penuh dibutuhkan waktu 7-10 tahun,” lanjutnya.

Menurut Djarot, ketiga reaktor BATAN saat ini tidak mungkin menjadi PLTN. Faktor utamanya, keberadaan reaktor di permukiman padat.

Selain itu, Reaktor Triga 2000 di Bandung dengan kapasitas 2000 Kw dan Reaktor Serba Guna GA Swabessy di Tangerang Selatan yang berkapasitas 30 Mw difokuskan menghasilkan isotop untuk industri kesehatan. Sedangkan Reaktor Kartini di DI Yogyakarta yang berkapasitas 100 km menjadi lokasi penelitian tingkat internasional.

Sebagai upaya mempercepat sosialisasi kebutuhan PLTN, BATAN menyusun program untuk masyarakat dan siswa di seluruh Indonesia. Tujuannya, menerangkan manfaat nuklir jika dikelola dengan baik. Kegiatan ini sepenuhnya digelar di DI Yogyakarta.


READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan