UC News

Cara Pemain PSPK Menyiasati Liga 3 saat Gaji Tersendat 4 Bulan

Cara Pemain PSPK Menyiasati Liga 3 saat Gaji Tersendat 4 Bulan
BELUM BAYARAN: Para penggawa PSPK berselebrasi usai mengalahkan Persid Jember, Minggu (10/9). Di balik keceriaan di lapangan, para pemain menyimpan kegalauan karena sudah 4 bulan belum bayaran.(Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Genap empat bulan, para penggawa PSPK Kota Pasuruan tidak digaji. Padahal, biaya hidup yang harus ditanggung juga tidak sedikit. Karenanya, sejumlah pemain memutar otak agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

--------------

Para penggawa PSPK tampil cukup ngotot saat menjamu Persid Jember, di laga lanjutan 12 besar Liga 3 Zona Jatim, Minggu (10/9) lalu. Usai leading 2 gol, Bayu Handika cs tampil cukup solid untuk membendung gelombang serangan Persid yang tampil superior di putaran pertama.

Hasilnya, PSPK berhasil kemenangan 2-1 saat wasit meniup peluit akhir pertandingan. PSPK pun menjaga peluang untuk lolos ke semifinal Liga 3 Zona Jatim.

Sepintas, melihat performa para penggawa PSPK itu seperti tak ada kendala. Padahal, di luar lapangan para penggawa Laskar Darmoyudho –julukan PSPK- kini memikul problem yang tak sepele.

Saat ini arek-arek PSPK tengah gundah gulana. Maklum saja, gaji mereka tak kunjung cair empat bulan terakhir. Sebagian pemain pasrah dengan kondisi tersebut, sebagian lain coba menanyakan haknya pada manajemen.

Achmad Fauzi misalnya. Ia mengaku, semula berharap banyak pada PSPK. Sebelumnya, ia berharap klub muda Kota Pasuruan itu menjadi tempatnya meniti karir. Namun, keinginannya itu seolah menemui jalan terjal. Seiring dengan kesulitan finansial yang dialami PSPK.

Keluhan soal gaji yang tak kunjung cair, bukan hanya dirasakan oleh Fauzi, tapi juga seluruh kawannya. Fauzi mengatakan, persoalan gaji ini seringkali jadi pembahasan sesama pemain.

“Itu, sudah menjadi obrolan wajib bagi kami. Setiap berkumpul, entah selepas latihan atau apa, pasti ada saja yang mempertanyakan soal gaji. Ya resah juga, kita sama-sama bertanya, tapi hanya janji yang didapat,” ujar Fauzi.

Bukan tanpa alasan jika Fauzi resah. Selain karena gaji merupakan haknya, ia merupakan pemain luar daerah yang membutuhkan uang untuk menutup kebutuhan hidupnya selama tinggal di Kota Pasuruan. Selama ini, Fauzi mengaku mengandalkan kiriman orang tua untuk biaya hidupnya di kota santri.

“Orang tua ya sempat bertanya. Saya jauh-jauh bermain di luar kota, tapi tak mendapatkan apa-apa. Selama ini memang masih minta ke orang tua. Tapi, saya juga mikir, sampai kapan harus minta ongkos ke orang tua, kan kasihan,” keluhnya.

Salah seorang gelandang PSPK yang enggan disebutkan namanya mengatakan, sejak Mei, ia resmi bergabung dengan PSPK. Ia menanggalkan klub yang diperkuat sebelumnya, dengan iming-iming gaji yang lebih besar.

“Pada putaran pertama, sudah banyak pertanyaan-pertanyaan soal gaji. Kami jalan tidak ada ongkos sama sekali, bahkan untuk biaya perjalanan. Ada sih, uang yang diberikan oleh manajemen. Diturunkan dua kali, tapi tidak sebesar gaji yang ditawarkan, setelah itu sudah tidak ada sama sekali,” keluhnya.

Ia tak menampik, tawaran gaji di PSPK memang menjanjikan. Sebelumnya, ia juga menerima rekomendasi dari sejumlah pemain yang sempat memperkuat PSPK di musim sebelumnya. “Sebelum bergabung saya tanya-tanya ke teman-teman yang sempat gabung di PSPK. Dulu lancar, tapi mereka kan tidak tahu kondisinya saat ini, yang kami rasakan saat ini,” ujarnya

Untuk urusan biaya hidup, ia masih bisa mengatasinya. Meski dengan terpaksa, ia harus membongkar tabungannya hasil dari klub yang diperkuat sebelumnya. “Untungnya saya masih ada tabungan dari klub sebelumnya. Awalnya, saya berkomitmen tidak akan membuka tabungan. Tapi, bagaimana lagi, keperluan untuk akomodasi juga banyak. Akhirnya saya pakai tabungan itu,” tambahnya.

Kapten PSPK, Bayu Handika juga membenarkan kondisi yang kini tengah melanda klubnya. Sebagai kapten tim, Bayu juga kerap disodori pertanyaan-pertanyaan oleh kawan-kawannya. Terutama, para pemain yang berasal dari luar kota. Ada lima pemain luar kota yang saat ini masih bertahan di PSPK.

“Kalau putra daerah, mungkin masih bisa maklum. Kalau pemain luar kota, memang sering absen berlatih karena benturan biaya,” jelasnya.

Menanggapi kondisi klubnya saat ini, Bayu menegaskan bahwa ia tak ingin sepak bola di Kota Pasuruan ini kian terpuruk. Meski pembayaran gaji masih tersendat, namun sebagai putra daerah, ia bertekad untuk tetap bertahan di PSPK.

“Kalau bukan putra daerah yang peduli, terus siapa lagi?” tegasnya. Beruntung, Bayu yang kini bekerja sebagai tenaga kontrak di Pemkot Pasuruan. Hal itu masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya.

Namun, tetap saja kelelahannya di lapangan hijau seringkali dipertanyakan oleh istrinya. “Untungnya, istri tetap mendukung saya di sepak bola, tapi ya kadang tanya kapan keluar gajinya. Saya hanya bisa tenangkan istri. Intinya, yang sabar...,” jelasnya.

Ia tak menutupi, selama bergabung di PSPK memang lebih banyak merugi. Biaya yang mesti dikeluarkan, tak seimbang. Ia harus mengelola gaji bulannya sebagai tenaga honorer untuk kebutuhan keluarganya. Di sisi lain, Bayu juga harus menyisihkan untuk keperluannya di lapangan hijau.

Meski begitu, Bayu menjelaskan ia bersama para pemain putra daerah lainnya tetap membangun komitmen. Ia tetap berharap, kondisi finansial di PSPK lekas membaik. “Kalau bicara untung rugi ya memang rugi. Tapi, ya mau bagaimana lagi, memang belum keluar anggarannya,” tuturnya.

Semenetara itu, manajer PSPK Helmi tak membantah adanya krisis finansial yang membelit klub tersebut. Menurut dia, tak kunjung cairnya gaji pemain dan ofisial selama empat bulan terakhir dikarenakan adanya penyesuaian regulasi.

“Memang itu semua benar. Ada penyesuaian regulasi karena PSPK levelnya masih amatir, di Liga 3 kan harus ada dana subsidi dari pemda (Pemkot Pasuruan). Nah, dari APBD inilah yang belum turun, sehingga kami belum bisa mengalokasikan biaya operasional seperti gaji pemain dan ofisial,” bebernya.

Kendati demikian, pria yang juga anggota DPRD Kota Pasuruan itu mengaku pihaknya tak berdiam diri. Berbagai upaya dilakukannya agar klub yang dikelolanya itu tak mati suri. Beberapa persoalan finansial yang dihadapi klub berjuluk kebanggaan Darmonster –julukan suporter PSPK- itu, selama ini diselesaikan secara internal.

“Itu, cara kami sendiri, sementara mengelola dana pribadi agar sepak bola di Kota Pasuruan ini tetap hidup,” tambah Helmi. Ia lantas menjelaskan, bahwa saat ini pihaknya juga telah melakukan komunikasi dengan Pemkot Pasuruan. Hasilnya, kata Helmi, dana subsidi itu akan dicairkan dalam waktu dekat. Namun, ia juga tak berharap lebih dengan pencairan dana subsidi tersebut.

READ SOURCE
UC News
Cerdas dan Terdepan